Selasa, 23 September 2025

Pelangi Cinta- BAB I

Sebetulnya ini novelet yang saya tuliskan dari tahun 2017 hingga di masa kedua saat saya menjalani pendidikan di perguruan tinggi kedinasan, telah selesai saya tulis dan dikirimkan di salah satu penerbit saat itu namun sayangnya dikarenakan masalah teknis pada laptop saya maka tidak ada file "utuh"nya lagi, dan tersisa beberapa bab yang saya cek kembali di Wattpad tahun ini. sebagai rasa bangga saya karna pernah menyelesaikannya maka saya ingin membagikan kepada para pembaca agar dapat hadir dan memberikan masukan terhadap beberapa bab yang saya sampaikan disini. 


BAB I

Arumita Zaharani yang biasa dipanggil "Arum". Baru saja keluar negeri untuk menempuh pendidikannya University Of Helsinki. Ia teringat akan masa-masa nya di Indonesia. Baru beberapa bulan, ia mendapat kabar buruk mengenai kekasihnya. Beribu tanya ia pendam kala itu. Satu hari sebelum kepulangannya ke Indonesia, ia kembali mendapat kabar bahwa kekasihnya meninggal dunia. Itu membuat hatinya bergemuruh dan ingin pulang. Hingga akhirnya impian untuk pulang benar-benar terwujud demi bertemu kekasihnya walau hanya di depan nisan.

Aku keluar dari apartemen menuju sebuah kafe, bersama dengan dinginnya sore. Butiran - butiran putih tampak berjatuhan ke mantel ku, atap-atap rumah pun memutih, dan mobil yang berada di jalan tertutup oleh salju. Benar, ini adalah musim salju yang pertama ku rasakan di negara orang.

Aktivitas di jalan raya tampak normal walau hujan salju turun. Mobil, sepeda, bus, dan bahkan pejalan kaki lainnya terlihat lalu-lalang dengan kehati-hatiannya. Di tengah guyuran salju itu, karyawan di kawasan pusat perbelanjaan Jumbo Helsinki mulai membersihkan salju di depan pintu toko-toko mereka.

Aku memandang dari kejauhan, tampak seorang anak kecil bersama Ayahnya memakan eskrim di sebuah kafetaria seberang jalan. Seketika aku ingat bahwa dulu, aku pernah melakukan hal yang sama dengan anak itu. Saat Ayah membelikan ku eskrim sewaktu ayah menjemputku di sekolah.

Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, Ayah adalah seorang abdi negara yang setia menjalankan tugas, sedang Ibu adalah ibu rumah tangga yang senantiasa mengurus anak-anaknya. Dulu, Ibuku seorang pekerja pajak, tetapi setelah menikah dengan Ayah, Ayah menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaan dan mengatur urusan rumah tangga saja. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara.

Ayahku adalah sosok pria yang pekerja keras, ia selalu pulang larut malam hanya untuk menyelesaikan bakti nya kepada negara. Bahkan, terkadang sesampai di rumah ia masih melanjutkan tugasnya. Mungkin, tak banyak waktu yang kami habiskan dirumah untuk berbicara bersama-sama, tetapi Ayah selalu meluangkan satu hari dari setiap hari kerja nya untuk berkumpul bersama anak dan istrinya, menikmati sebuah waktu yang mengukir kenangan. Mungkin menurut kalian, satu hari itu tak ada artinya dibandingkan dengan enam hari yang lain, tapi percayalah, bahwa diriku sangat menunggu satu hari itu, satu hari yang dapat membuat keakraban kami kembali terjalin.

Aku ingat ketika ayah menjemputku di taman kanak-kanak. Ya, saat itu aku masih TK dan impian ku saat itu hanya ingin dijemput oleh Ayah saat pulang sekolah. Saat bel berbunyi kami berhamburan ke luar kelas, mencari jemputan. Ada yang dijemput oleh ayahnya, ibunya, dan kakaknya. Sedang aku melangkah pelan keluar sekolah dengan perasaan yang sedih. Saat itu juga, Ibu belum menjemputku dan aku duduk di depan sekolah, tepatnya di warung "Wak Jau" yang kini sudah meninggal. Aku memandangi temanku yang dijemput Ayahnya, sungguh bahagia bila diriku bisa dijemput oleh Ayah, karena selama aku sekolah di TK ayah belum pernah menjemputku, tetapi kalau masalah mengantar ke sekolah, aku selalu bersama dengan ayah. Hanya berbeda saja, jika Ayah juga bisa menjemputku. Mungkin aku bisa merasa bahagia layaknya teman ku yang lain.

Saat aku melihat temanku yang lain dijemput Ayahnya aku berkata dalam hati,

"Tuhan, aku ingin dijemput oleh Ayah seperti mereka. Tuhan, dengarkan doa ku".

Wak Jau menegur ku dari belakang, dan berkata "Arum belum dijemput ya? Biasanya Ibu selalu menunggu lebih dahulu sebelum kamu pulang?"

Aku membalas pertanyaan Wak Jau dengan hati yang sedih sambil memandangi teman ku yang dijemput Ayahnya, "Belum Wak, mungkin Ibu lagi banyak kerjaan."

Kemudian Wak Jau balik membalas, "Tunggu disini aja. Jangan kemana-mana, kalau mau makan, ya makan dulu".

"Iya Wak", sahutku sambil tetap memandangi temanku yang dijemput oleh Ayahnya.

Tak lama kemudian, dari kursi yang aku duduki ku lihat dari kejauhan tampak motor berwarna cokelat dengan nomor kendaaraan polisi melaju dengan cepat bersama debu-debu yang beterbangan. Dalam hati aku berkata, "Apa itu Ayah? Ayah? Ayah?"

 Aku beranjak dari kursi lamunanku dan berdiri di muka jalan sambil memastikan bahwa itu memang benar Ayah, dengan perasaan yang senang, lantas aku berpikir bahwa Tuhan mengabulkan impian ku saat itu.

 Terdengar suara motor Ayah dan berhenti dua meter dari tempat aku berdiri dan melambaikan tangannya seraya berteriak, "Arum sini, ini ayah yang jemput."

 Aku langsung berlari dari tempat ku dan segera menghampiri Ayah. Perasaan ku senang bukan main, karena impian ku terwujud. "Ayah kok bisa yang jemputnya? Emang Ibu kemana? Tanya ku.

 Ayah membalas, "Ibu lagi ada arisan di kantor Ayah, jadi Ayah yang jemput. Tadi di jalan Ayah beliin kamu es krim, cuaca nya panas kan? Makan gih sebelum meleleh"

 "Yah makan nya di warung Wak Jau aja ya."

 "Iya-iya" ucap Ayah. Ayah segera memarkinkan motornya diatas panasnya aspal dan cuaca kala siang itu. Kemudian Ayah turun dari motornya,dan beranjak ke warung Wak Jau.

 "Ayah beli 2 ya es nya?" tanya ku.

 "Ya iyalah satunya kan untuk Ayah nak"

 "Oh iya"  balas ku, sambil tertawa.

 Setelah makan es krim, Ayah mengantar kan ku pulang kerumah, aku duduk di bagian depan motor. Kala itu, motor Ayah, masih seperti motor 'King'. Di perjalanan pulang, Ayah menanyai ku mengenai aktivitas apa saja di sekolah tadi, dan tak lupa ayah selalu berkata,

 "Di sekolah jangan nakal, sikapnya dijaga, nanti dimarahin guru kalo nakal"

 "Iya Ayah, Arum ga nakal kok" sahutku.

 Senggolan teman ku, Tizo. Menyadarkan aku dari manisnya sebuah kenangan waktu. Menyadarkan ku dari tatapan anak kecil bersama Ayahnya. Menyadarkan ku bahwa, mengukir sebuah kenangan hanya perlu dengan kesederhanaan.

 "Hey! Rum! Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

 Aku membalas perkataan Tizo dan seraya menunjuk tanganku ke arah anak itu. "Aku hanya melihat seorang anak kecil itu yang sedang makan es krim bersama Ayahnya. Peristiwa ini, mengingatkan ku pada Ayah, dan sekarang aku semakin  rindu pada nya"

 "Bagaimana dengan mu? Apa yang sedang kau lakukan di sini" timpalku.

 "Hmm. Aku hanya ingin membeli satu cup kopi dan beberapa mie instan. Apakah kau mau ikut? Tanya nya.

 "Tidak, aku kesini hanya ingin meminum kopi di seberang sana"

 "Oke, sampai jumpa. Hati-hati di jalan"

 "Sampai jumpa Tizo"

 Aku melangkah dengan hati yang rapuh, aku masih teringat bagaimana dulu kenangan yang aku buat bersama Ayah saat bersama. Tetapi, aku tak ingin berlama-lama dari keadaan ini, aku harus beranjak tiba di kafe itu.

 Aku tiba di depan pintu kaca kafetaria setelah berlari dari seberang jalan mengejar lampu pejalan yang sebentar lagi akan padam. Ku katakan, bahwa sore bersalju ini membuat jalanan cukup ramai, tetapi aku tetap saja merasa sepi dan sendiri, bagai terasingkan, sungguh.

 Sudah satu minggu aku berada di negara orang, tepatnya Helsinki, Finlandia. Aku selalu merasa sepi dan sendiri, mungkin karena di sini aku tidak mempunyai kerabat. Ku ayunkan langkah kaki dan gerak tangan ku perlahan untuk masuk ke dalam kafe tersebut, merasakan kehangatan. Aku melihat  kanan kiri ku sudah ramai di hinggapi beberapa anak muda yang saling bercanda tawa sambil mengerjakan tugas. Ya kafe ini adalah kafe favorit anak muda, karena menyuguhkan beberapa makanan yang cukup murah bagi kantong kami. Pelayan nya juga ramah.

 Ku lihat satu tempat duduk yang masih kosong, dan itu dekat dengan jendela! Sungguh, tempat duduk yang seperti ini kembali mengingatkan ku pada masa lalu ku. Aku melangkah maju seraya menuju tempat duduk itu, ku geser kursi dengan kehati-hatian kemudian menidurkan mantel di punggung kursi ku.

 Mungkin aku beruntung dapat duduk di meja dekat jendela ini, karna aku bisa melihat bahwa sebenarnya jalanan semakin ramai, walau aku merasa begitu sendiri, tetapi setidaknya aku bisa memandang orang lalu-lalang, menghitung detik lampu merah di dekat kafetaria ini, melihat mini market di seberang jalan tempat aku biasa membeli cokelat dan susu.

 Pelayan minimarket itu sungguh baik dan ramah. Saat pertama-tama aku di Kota Helsinki, aku sempat kehabisan makanan dan memutuskan untuk keluar membeli beberapa roti dan susu di sana. Seingat ku, aku hanya membeli tiga bungkus roti dengan selai nanas, lima kaleng susu dan  satu bungkus yohgurt yang bisa aku gunakan untuk makan malam dan untuk sarapan esok, kemudian ku serahkan barang belanja ku di kasir.

 Petugas kasir berkata, "Total nya 124.000"

 Saat aku hendak membayar totalan nya, aku salah membawa dompet! Mampus aku, pikirku.

 Lantas, aku mengatakan, "Maaf tuan, aku salah membawa dompet. Aku belum bisa membayarnya.  Tetapi percayalah, aku akan membayarnya,"

 Petugas kasir yang saat itu menurutku, seumuran juga dengan ku menjawab, "Bagaimana bisa kau belanja, tetapi tidak membawa uang? Kau orang baru di sini? Tanya nya.

 "Ya Tuan, saya orang baru di sini. Baru dua bulan. Saat hendak bersepatu, sepertinya saya meninggakan dompet ungu yang berisi uang, dan membawa dompet merah ini" ucap ku.

 "Kau ambil saja, biar aku yang membayarnya." Kata nya.

 "Apakah benar Tuan??" Sahutku tak percaya.

 "Ya, ambillah ini" Ia merapikan barang belanja ku dan memberikannya pada ku. Bayangkan saja, aku tak mengenalnya sebelum itu, bahkan dia bisa memberikan itu secara gratis. Tak ku sangka, rezeki memang tak kemana-mana. Di saat perut hendak lapar, dan uang ketinggalan. Ada saja yang memberikan belanjaan itu dengan gratis. Aku harap bukan karena dia kasian melihat ku yang masih baru di sini.

 Aku berterimakasih kepada nya, dan segera pulang. Di perjalanan pulang aku berpikir,

 "Bagaimana bisa dia memberikan itu dengan cuma - cuma?"

 "Apakah dia pemilik minimarket itu?"

 "Tapi, kenapa ia yang menjaga kasirnya? Bukankah anak buah nya banyak, kenapa dia tak menyuruh anak buah nya saja?"

 Otakku bertanya dengan beribu tanya.

 "Apa maksudnya memberikan ini?"

Dan, ada yang aku lupa saat itu, "Aku belum tahu nama nya! Bagaimana bisa, jika aku ingin mengembalikan uang ini ke dia, tetapi dia tak di sana? Aku berhutang pada nya!"

 Ku kencangkan mantel dan bingkisan ku, menembus dinginnya malam kala itu, suasana semakin sepi menjadi-jadi. Hingga aku tiba dirumah dan menenggelamkan tubuhku dalam isak tanya di dada mengenai petugas kasir itu.

 Besoknya, aku masih mencari beberapa informasi mengenai daerah tempat tinggalku, seperti "Bagaimana aku bisa ke universitas nanti,"

 "Menggunakan apa aku bisa ke situ,"

 "Jalan Mannerheimintie ada di mana ya?"

 Setelah mendapat informasi dari beberapa orang. Aku memutuskan untuk kembali menemui petuga kasir semalam di mini market itu, aku masuk dan bertanya pada pelayan yang lain,

"Boleh aku bertemu dengan petugas kasir semalam?"

"Siapa?"

 "Aku tak tahu namanya, tetapi dia bekerja disini semalam, dia menjaga kasir sekitar pukul 22.00"

 "Kau tahu Dre?" tanya pelayan itu ke pelayan lain.

 "Anaknya bos ya?"

 Aku mengulang perkataannya, "Anaknya bos?"

 "Iya. Heru" ucapnya.

 "Heru? Dimana dia sekarang?"

 "Ada di dalam, akan segera ku panggilkan" jawab pelayan yang memakai bed nama Andre.

 "Terimakasih"

 Aku melangkah keluar dan duduk di kursi luar mini market, Heru ikut menyusul dan bertanya,

 "Kenapa kau ke sini, ada apa?"

 Aku menyodorkan beberapa uang kertas kepada nya. "Hai, aku ingin mengembalikan uang mu semalam"

 "Tidak usah, anggap saja itu hadiah untuk mu yang baru tinggal disini"

 "Tidak, Ibu mengajarkan ku untuk membayar apa yang seharusnya kita beli"

 Ia mengembalikan uang ku dan berkata, "Ambillah saja. Gunakan uangmu untuk keperluan yang lain, lain kali jangan melupakan sesuatu lagi"

 "Terimakasih" jawabku. 

 "Sama-sama"

 Lalu dia beranjak masuk ke dalam mini market, tanpa menghiraukan ku lagi. Setelah tak berpikir panjang aku pun melangkah pergi dari mini market itu seraya berucap dalam hati,

 "Terimakasih Heru, kau pelayan yang baik hati". Walau sebenarnya diriku masih bertanya-tanya mengenai Heru.

 Dapat ku ungkap bahwa, awalnya aku tidak menyukai duduk di dekat jendela ini, tetapi karena dia, belahan jiwa ku yang berada di Indonesia membuat diriku menyukai ini. Menurutnya duduk di dekat jendela, dapat menjawab dari perasaan kita yang ada, dengan cara memandang ke luar.

 "Kenapa kamu suka duduk di dekat jendela?" tanyaku heran. Pada saat itu, kami pergi berdua untuk makan siang.

 Dengan santai, ia menjawab,

 "Jika dirimu duduk di jantung kafe ini, kau hanya melihat isi dalam dari kafe ini kemudian kau akan merasakan kesepian, berbeda jika dirimu duduk di dekat jendela." ungkapnya.

 Aku hanya diam mendengar alasannya dan menyimpan kalimat itu dalam ingatan ku.

 Setelah 15 menit berlalu, pelayan kafe datang menuju meja sudut jendela bersama helaian kertas-kertas menu yang indah.

 "Selamat sore, di sore yang dingin kamu mau mesan apa?"

 "Kopi hangat satu"

 "Makanannya?"

 "Tidak, aku hanya ingin minum saja"

 "Baiklah, silahkan di tunggu"

 Aku meng-iyakan perkataan pelayan dengan mengangguk saja. Kemudian pelayan itu kembali ke pusat kafe untuk mengabulkan pesananku, penghangat ruangan yang ada di kafe ini tak mampu membuat diriku terasa hangat, bahkan semakin dingin menurutku, sehingga aku harus menggosok-gosokkan kedua tangan ku berulang kali.

 Ku lihat dari kejauhan, pelayan tadi tampaklah profesional dalam bekerja. Ia menggunakan blazer abu-abu dengan rapi, sepatu hitam yang mengkilap, mengantar sebuah pesanan dari meja ke meja bersama dengan nampan pesanan dan gerakan-gerakan tubuhnya, anehnya, dia tidak jatuh, walau terkadang pesanan orang-orang itu banyak di tangannya.

 Perlahan demi perlahan ia menuju sudut jendela, tepatnya ke meja ku.

 "Ini kopi nya, 25.000"

 "Baiklah, terimakasih," ucapku sambil menyodorkan uang.

 "Selamat menikmati"

 Pelayan tadi kemudian perlahan hilang dari pandanganku. Ia kembali ke jantung kafe, menuntaskan tugas nya. Dapat ku katakan, sepertinya ia sudah lama bekerja di kafe ini.

 Bersamaan dengan lagu yang mengiri ku saat itu, yakni "Flying without Wings" yang di nyanyikan oleh Band ternama "WESTLIFE" membuat diriku semakin hanyut dalam kedinginan kota ini.

 Ku pegang secangkir gelas kopi itu dengan harapan, bahwa teh tersebut dapat membuat diriku sedikit hangat. Ku angkat perlahan, sambil mengenang kembali butir-butir kenangan yang tersisa saat di Indonesia. Ku resapi aroma dari kopi yang membuat aku larut dalam bau nya. Sungguh, enak sekali. Tetapi, seketika dalam benakku timbul sebuah pernyataan bahwa,

 "Aku ingin kembali! Ya, aku harus kembali! Aku tak tahan berada di sini, bersama kesendirian!"

 Ku pejamkan mata, lalu membayangkan suasana yang ada di rumah ku, pada saat bulan ini juga, cuaca di daerah rumah ku pastilah hujan dan dingin. Sebab ini awal-awal tahun. Walau terkadang prediksi musim penghujan tak sama lagi, tetapi dapat dipercayai, bahwa bulan Januari akan selalu turun hujan. Kemudian aku bertanya-tanya,

  "Ibu, apa kabar?"

 "Ayah, apa kabar?"

 "Bagaimana keadaan kalian? Kau sedang apa Ibu? Ayah kau dimana?"

 "Kakak, bagaimana kabarmu?"

 "Ibu, Ayah, Kakak, aku rindu dari sini"

 "Aku ingin pulang"

 Dapat ku katakan bahwa aku belum terlalu lama berada di sini, baru dua bulan, tetapi.. aku selalu merasakan kerinduan pada tempat tinggal ku.

 "Kalau dirumah, saat sedang hujan, pastilah Ibu memberikan ku wedang jahe yang dibuatnya sendiri, agar tubuhku kembali terasa hangat dan terhindar dari flu, tapi kalo sekarang aku harus membeli nya sendiri" ucapku dengan sedih.

 Saat hujan, pasti Ayah selalu membelikan kami martabak keju, martabak favorit di keluarga kami. Tetapi, keadaan nya berbeda dengan sekarang. Aku di sini, dan mereka di sana. Aaaaa saat aku mengenang ini, aku semakin rindu pada merekaa!! Bantu aku Tuhan menahan rindu ini sampai waktu yang tepat untuk bertemu.

 Aku masih hanyut dalam butir kenangan ini, aku masih hanyut dalam keheningan malam yang mengantar petang untuk pergi, aku masih disini, di tempat favorit ku bersantai walau hanya dengan secangkir kopi.

 Aku masih merindukan mereka....

 Aku tak ingin beranjak dari sini sedikitpun, aku masih mau melodi malam menemani ku, aku masih ingin putaran lagu melankonis Westlife terdengar di telinga ku, tapi, denting jam merubah segalanya, sekarang sudah pukul 20.00 malam, dan aku harus segera pulang mempersiapkan buku untuk kuliah besok, ya aku harus mempersiapkannya. Seandainya saja besok belum masuk, mungkin aku akan tetap berada di sini, dalam kehangatan ruangan kafe.

 Ku kenakan kembali mantel yang sudah lama tidur di punggung kursi ini, tak lupa, sarung tangan juga ku kenakan, karena aku tahu, kondisi malam ini pastilah sangat dingin, dan aku harus kuat melewati dinginnya malam ini!

 Aku berjalan keluar dari kafetaria, sambil mengangkat tangan dan berkata ke salah satu pelayan,

 "Aku pulang, terimakasih pelayanannya!"

 "Sampai jumpa! Hati-hati dijalan, mampir kesini lagi!" balas si pelayan.

 Aku berusaha mengejar lampu pejalan kaki, tapi sayangnya sudah padam. Aku harus menunggu beberapa menit lagi, ku pandangi mini market yang di seberang jalan, dan ingin mampir ke sana, untuk memastikan,

 "Apakah malam ini, Heru ada disana? Bekerja di sana?"

 Tetapi niat ku terhenti untuk ke sana, aku tidak mau nanti Heru menganggap ku minta di bayarin lagi. Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Lampu pejalan kaki menyala, aku berlari kencang agar aku tidak dikejar oleh lampu itu, hingga akhirnya aku sampai ke seberang jalan untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku melewati mini market itu, dan berkata dalam hati,

  "Mampir ga ya?"

  "Apakah Heru marah kalau aku mampir ke sini lagi?"

  "Ah sudah malam, sebaiknya aku pulang saja". Aku pulang dengan keraguan untuk mampir atau tidak tetapi ya sudahlah, lain kali saja. Nanti, Cika khawatir karena diriku tak kunjung pulang.

 Di perjalanan pulang, melodi malam memanggil ku lagi, seakan mengajak diriku menari-nari bersama nya. Tepatnya, aku bertemu dengan seseorang yang memainkan alat musiknya di pingggir jalan dengan sangat menjiwai, ada yang bermain biola dengan kondisi fisik yang kurang, ada juga yang bermain sexophone dan gitar, walaupun mereka mempunyai fisik yang tidak sempurna tetapi mereka tetap melanjutkan hidupnya, mereka tetap mencari uang, dengan kelebihan yang mereka miliki. Mereka memainkan beberapa lagu dengan khusyuk dan menciptakan alunan yang indah. Dari beberapa pemain musik itu aku dapat menangkap sebuah pelajaran hidup bahwa,

 "Tuhan memberikan kita kekurangan, tapi percayalah, di samping kekurangan itu, ada banyak kelebihan yang Tuhan juga berikan"

 "Hidup tak berhenti saat kita mempunyai kekurangan, tetapi saat kita menyerah dari itu semua, baru lah kehidupan itu berhenti"

 Ku berikan secercah uang receh sisa aku minum kopi tadi, dan berdoa dalam diam "Semoga Tuhan memberikan mereka kehidupan yang baik."

 Gemerlap malam Kota Helsinki semakin menjadi-jadi, walau dingin semakin menusuk kulit semakin malam kota ini semakin ramai! Apakah mereka tak merasa kedinginan? Entahlah, mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, berbeda dengan diriku yang baru beberapa bulan. Cahaya yang terpancar dari bilik tok-toko ini membuat diriku semakin bersyukur atas anugrah yang Tuhan berikan, atas nikmat yang Tuhan berikan, sehingga aku dapat berada di sini.

 Aku merasa senang saat berada di antara orang banyak, karena dapat membuat diriku hilang dari kesendirian, walau itu sesaat. Mobil yang mewah hilir mudik berjalan, bule-bule yang besar tinggi berjalan kesana kemari, ada yang sambil memotret, menawar buah, memakan pizza, eskrim, dan ada juga yang berjalan hanya mengenakan celana pendek saja.

 "Apa mereka tak kedinginan? Memakai celana pendek saja? Bahkan aku, yang memakai pakaian dingin serba lengkap, masih kedinginan, hoah ampun aku" ujarku.

 Aku harus pulang sekarang, terlalu banyak yang ku pandangi sekarang. Aku berlari deras, saat sudah memasuki daerah 'student apartment', suasana nya gelap, atap-atap rumah semakin tertutupi oleh butiran-butiran salju yang nakal. Bersama dengan dingin nya kota aku menembus kesunyian malam ini, aku berharap untuk cepat sampai di rumah, berkali-kali ku gosokkan kembali kedua tangan ku agar dapat hangat. Jalanan sepi dan banyak terdapat salju di aspalnya sehingga aku harus lebih berhati-hati saat lari, pohon-pohon melambai ditiup angin, dedaunan ditutupi oleh bola salju kecil, aku terus berjalan sesambil menyembunyikan kedua tangan di balik saku mantel, ku hembuskan nafas dan  ku percepat langkah, semoga Tuhan melindungi ku.

 Sesampai di depan rumah, ku keluarkan kembali tangan mungil ku yang ku simpan di dalam mentel untuk memencet bel rumah, aku berharap, Cika belum tidur saat ini.

 Hentakkan kaki terdengar seperti mendekat dari balik pintu, sepertinya Cika belum tidur! Ucapku gembira, ternyata dia masih menunggu ku, ah leganya. Kemudian ia membuka kan pintunya sambil merengutkan dahi dan berkata,

 "Kamu darimana? Aku nungguin dari tadi, "

 "Maafin aku Cik, tadi aku keluar sebentar, mengingat beberapa sisa-sisa kehidupan"

 Aku masuk sambil menurukan mantel ku diatas kursi. Ruang tamu tampak berantakan, dipenuhi dengan tugas-tugas Cika yang menumpuk. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.

 "Cuaca nya dingin begini loh Rum.. daerah sini juga gelap, kamu ga takut? Pergi ga bilang-bilang, di hubungin ga bisa juga, ucap Cika yang sambil menutup pintu.

 "Takut ga takut lah, harus diberaniin, dijalan juga tadi ramai kok walau banyak salju, aku tadi mau kasih tahu kamu kalau aku mau keluar sebentar, tapi kamu nya tidur. Yah aku ga mau lah bangunin kamu, kamu kan capek."

 "Eh, eh tapi.. tadi aku udah nulis surat sih di atas meja ini, aku bilang mau ke kafetaria favorit anak kampus itu, lah kamu ga baca?" aku mengambil surat itu di atas meja telepon dan nunjukin ke Cika.

 "Kamu bisa aja kalo ngeles"

 "Ya engga Cik, loh ini masih ada suratnya, kamu sih yang ngeliat nya hahaha" aku tertawa.

 "Terus salah siapa?" ucap Cika.

 "Aku ga salah dong ya, kayaknya kamu deh yang salah"

 "Enak aja, nyalahin aku lagi, padahal kamu yang salah, ihhh"

 "Kamu udah makan?" tanya Cika.

 "Belum, aku hanya minum kopi saja"

 "Hueleh, cuma minum teh kopi aja sampe ke sana. Dasar kamu mah,"

 "Gapapa juga sih, sok sokan jadi anak Helsinki dikit" timpalku sambil mengejek Cika.

 "Yaudah, kamu makan dulu aja, aku udah masakin tuh. Niatnya mau makan sama kamu, tapi kamu ga pulang-pulang, makanya aku makan duluan tadi, ga apa-apa ya?

 "Dibuatin aja aku udah makasih banget. Kamu temen aku yang paling ngerti deh, makasih ya Cik"

 Meja ruang tamu di penuhi dengan tugas-tugas Cika yang serba lengkap, bersama secangkir teh ia menyelesaikan tugasnya, sepertinya laptop nya juga bahkan sudah letih untuk membantunya.

 Lalu, bagaimana dengan tugas ku? Wah aku sudah menyelesaikan 2 hari kemarin! Jadi sekarang aku dapat bersantai ria.

 Aku duduk di samping Cika yang masih sibuk dengan tugasnya, yang masih bingung dengan tugasnya, sepertinya dia juga sudah kelihatan bosan menyelesaikan tugas dan tugas.

 "Tumben, masakan mu enak Cik"

 "Baru belajar dari Google, makanya kamu belajar juga dong masak, jangan makan di luar aja"

 Aku tertawa dan seraya berkata "Lanjutin aja deh Cik tugasnya,". Aku menghindar dari pembicaraan Cika yang sudah menyinggung driku mengenai urusan masak-memasak.

 Cika adalah teman seperjuangan ku dari Indonesia, baru beberapa bulan aku mengenalnya, tapi kita seperti saudara, karena susah, dia ada, karena senang, dia juga ada. Aku menganggap Cika adalah sahabat terbaik ku.

 Kami sering berbagi cerita, terbuka terhadap masalah yang dihadapi. Penampilannya sederhana, ia menggunakan kacamata yang minus 3, kulitnya sawo matang, rambutnya lurus dan panjang sampai bahu, hidung nya mancung, tingginya pun sama dengan diriku, 163 cm.

 Cika orangnya superduper cerewet tapi aslinya dia itu sungguh-sungguh perhatian dan pengertian, dia pandai masak, cerdas, rajin, ambisius, pendengar yang baik, sopan dan terkadang ia menjengkelkan, tapi aku berusaha untuk menerima dia apa adanya. Aku berasal dari pulau Jawa, dan dia dari Sumatera. Tetapi, walau berbeda pulau. Aslinya aku juga berasal dari pulau Sumatera. Aku tinggal di Jakarta karena Ayah pindah tugas sejak aku berumur enam tahun.

 Aku masih melanjutkan makan ku sedang ia sudah membereskan peralatan-peralatan nya, lantas aku bertanya,

 "Udah selesai Cik?"

 "Udah dong, mau tidur dulu lah,"

 "Yaudah duluan aja, aku masih mau nonton"

 "Oke-oke duluan ya"

 "Sip"

 Cika membereskan semua perkakas nya dari ruang tamu, mengambil satu persatu helaian kertas print-an, mengangkat print dan meletakkannya di sudut ruangan, ia tampak glagapan dalam merapikan kembali alat-alatnya, laptopnya tampak melemah karena habis tenaga, begitu pun dengannya, mata nya tampak sayu dan hendak meminta istirahat dengan cepat.

 Aku menonton sebuah berita yang menyatakan bahwa tadi siang terjadi kecelakaan di Jalan Esplanade, didepan Cafe Karl Fazer yang disebabkan oleh "salju". Mobil tersebut melaju kencang hingga tak tahu bahwa jalanan di depannya masih banyak salju, mobilnya tergelincir dan menabrak salah satu toko. Sungguh ironis nasib pengendara tersebut. Tapi, si pengendara hanya luka ringan saja. Untunglah masih selamat.

 "Hoam..." aku menutup mulutku dengan tangan dan ternyata diriku mengantu sejak tadi, mata ku pun mulai layu menatap berita ini, tubuhku mulai loyo tak seimbang. Ku lihat jam dinding ternyata tak sadar waktu juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam dan besok aku harus masuk pagi!

 Bergegas ku matikan televisi dan masuk ke kamar. Oh iya, di rumah ini, kamar kami hanya satu. Jadi aku tidur berdua dengan Cika. Ku lihat Cika sudah berada di alamnya sendiri. Aku menuju tempat tidur kemudian mematikan lampu kamar, sebenarnya aku tak suka gelap, tetapi kalau lampu ga dimati, Cika ga bisa tidur! Dia bisa bangun di tengah malam dan mematikan lampu itu sendiri.

 Aku masih mengingat beberapa memori kecil yang ada di otakku tadi, bahwa aku masih merindukan suasana di Indonesia. Tetapi sudahlah, lebih baik aku tidur sekarang agar tidak telat kuliah besok

 Selamat Tidur Cika. Aku memejamkan mata dan dapat bermimpi suasana di Indonesia. Semoga saja.

 ***Senggolan teman ku, Tizo. Menyadarkan aku dari manisnya sebuah kenangan waktu. Menyadarkan ku dari tatapan anak kecil bersama Ayahnya. Menyadarkan ku bahwa, mengukir sebuah kenangan hanya perlu dengan kesederhanaan.

 "Hey! Rum! Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

 Aku membalas perkataan Tizo dan seraya menunjuk tanganku ke arah anak itu. "Aku hanya melihat seorang anak kecil itu yang sedang makan es krim bersama Ayahnya. Peristiwa ini, mengingatkan ku pada Ayah, dan sekarang aku semakin  rindu pada nya"

 "Bagaimana dengan mu? Apa yang sedang kau lakukan di sini" timpalku.

 "Hmm. Aku hanya ingin membeli satu cup kopi dan beberapa mie instan. Apakah kau mau ikut? Tanya nya.

 "Tidak, aku kesini hanya ingin meminum kopi di seberang sana"

 "Oke, sampai jumpa. Hati-hati di jalan"

 "Sampai jumpa Tizo"

 Aku melangkah dengan hati yang rapuh, aku masih teringat bagaimana dulu kenangan yang aku buat bersama Ayah saat bersama. Tetapi, aku tak ingin berlama-lama dari keadaan ini, aku harus beranjak tiba di kafe itu.

 Aku tiba di depan pintu kaca kafetaria setelah berlari dari seberang jalan mengejar lampu pejalan yang sebentar lagi akan padam. Ku katakan, bahwa sore bersalju ini membuat jalanan cukup ramai, tetapi aku tetap saja merasa sepi dan sendiri, bagai terasingkan, sungguh.

 Sudah satu minggu aku berada di negara orang, tepatnya Helsinki, Finlandia. Aku selalu merasa sepi dan sendiri, mungkin karena di sini aku tidak mempunyai kerabat. Ku ayunkan langkah kaki dan gerak tangan ku perlahan untuk masuk ke dalam kafe tersebut, merasakan kehangatan. Aku melihat  kanan kiri ku sudah ramai di hinggapi beberapa anak muda yang saling bercanda tawa sambil mengerjakan tugas. Ya kafe ini adalah kafe favorit anak muda, karena menyuguhkan beberapa makanan yang cukup murah bagi kantong kami. Pelayan nya juga ramah.

 Ku lihat satu tempat duduk yang masih kosong, dan itu dekat dengan jendela! Sungguh, tempat duduk yang seperti ini kembali mengingatkan ku pada masa lalu ku. Aku melangkah maju seraya menuju tempat duduk itu, ku geser kursi dengan kehati-hatian kemudian menidurkan mantel di punggung kursi ku.

 Mungkin aku beruntung dapat duduk di meja dekat jendela ini, karna aku bisa melihat bahwa sebenarnya jalanan semakin ramai, walau aku merasa begitu sendiri, tetapi setidaknya aku bisa memandang orang lalu-lalang, menghitung detik lampu merah di dekat kafetaria ini, melihat mini market di seberang jalan tempat aku biasa membeli cokelat dan susu.

 Pelayan minimarket itu sungguh baik dan ramah. Saat pertama-tama aku di Kota Helsinki, aku sempat kehabisan makanan dan memutuskan untuk keluar membeli beberapa roti dan susu di sana. Seingat ku, aku hanya membeli tiga bungkus roti dengan selai nanas, lima kaleng susu dan  satu bungkus yohgurt yang bisa aku gunakan untuk makan malam dan untuk sarapan esok, kemudian ku serahkan barang belanja ku di kasir.

 Petugas kasir berkata, "Total nya 124.000"

 Saat aku hendak membayar totalan nya, aku salah membawa dompet! Mampus aku, pikirku.

 Lantas, aku mengatakan, "Maaf tuan, aku salah membawa dompet. Aku belum bisa membayarnya.  Tetapi percayalah, aku akan membayarnya,"

 Petugas kasir yang saat itu menurutku, seumuran juga dengan ku menjawab, "Bagaimana bisa kau belanja, tetapi tidak membawa uang? Kau orang baru di sini? Tanya nya.

 "Ya Tuan, saya orang baru di sini. Baru dua bulan. Saat hendak bersepatu, sepertinya saya meninggakan dompet ungu yang berisi uang, dan membawa dompet merah ini" ucap ku.

 "Kau ambil saja, biar aku yang membayarnya." Kata nya.

 "Apakah benar Tuan??" Sahutku tak percaya.

 "Ya, ambillah ini" Ia merapikan barang belanja ku dan memberikannya pada ku. Bayangkan saja, aku tak mengenalnya sebelum itu, bahkan dia bisa memberikan itu secara gratis. Tak ku sangka, rezeki memang tak kemana-mana. Di saat perut hendak lapar, dan uang ketinggalan. Ada saja yang memberikan belanjaan itu dengan gratis. Aku harap bukan karena dia kasian melihat ku yang masih baru di sini.

 Aku berterimakasih kepada nya, dan segera pulang. Di perjalanan pulang aku berpikir,

 "Bagaimana bisa dia memberikan itu dengan cuma - cuma?"

 "Apakah dia pemilik minimarket itu?"

 "Tapi, kenapa ia yang menjaga kasirnya? Bukankah anak buah nya banyak, kenapa dia tak menyuruh anak buah nya saja?"

 Otakku bertanya dengan beribu tanya.

 "Apa maksudnya memberikan ini?"

  Dan, ada yang aku lupa saat itu, "Aku belum tahu nama nya! Bagaimana bisa, jika aku ingin mengembalikan uang ini ke dia, tetapi dia tak di sana? Aku berhutang pada nya!"

 Ku kencangkan mantel dan bingkisan ku, menembus dinginnya malam kala itu, suasana semakin sepi menjadi-jadi. Hingga aku tiba dirumah dan menenggelamkan tubuhku dalam isak tanya di dada mengenai petugas kasir itu.

 Besoknya, aku masih mencari beberapa informasi mengenai daerah tempat tinggalku, seperti "Bagaimana aku bisa ke universitas nanti,"

 "Menggunakan apa aku bisa ke situ,"

 "Jalan Mannerheimintie ada di mana ya?"

 Setelah mendapat informasi dari beberapa orang. Aku memutuskan untuk kembali menemui petuga kasir semalam di mini market itu, aku masuk dan bertanya pada pelayan yang lain,

 "Boleh aku bertemu dengan petugas kasir semalam?"

 "Siapa?"

 "Aku tak tahu namanya, tetapi dia bekerja disini semalam, dia menjaga kasir sekitar pukul 22.00"

 "Kau tahu Dre?" tanya pelayan itu ke pelayan lain.

 "Anaknya bos ya?"

 Aku mengulang perkataannya, "Anaknya bos?"

 "Iya. Heru" ucapnya.

 "Heru? Dimana dia sekarang?"

 "Ada di dalam, akan segera ku panggilkan" jawab pelayan yang memakai bed nama Andre.

 "Terimakasih"

 Aku melangkah keluar dan duduk di kursi luar mini market, Heru ikut menyusul dan bertanya,

 "Kenapa kau ke sini, ada apa?"

 Aku menyodorkan beberapa uang kertas kepada nya. "Hai, aku ingin mengembalikan uang mu semalam"

 "Tidak usah, anggap saja itu hadiah untuk mu yang baru tinggal disini"

 "Tidak, Ibu mengajarkan ku untuk membayar apa yang seharusnya kita beli"

 Ia mengembalikan uang ku dan berkata, "Ambillah saja. Gunakan uangmu untuk keperluan yang lain, lain kali jangan melupakan sesuatu lagi"

 "Terimakasih" jawabku. 

 "Sama-sama"

 Lalu dia beranjak masuk ke dalam mini market, tanpa menghiraukan ku lagi. Setelah tak berpikir panjang aku pun melangkah pergi dari mini market itu seraya berucap dalam hati,

 "Terimakasih Heru, kau pelayan yang baik hati". Walau sebenarnya diriku masih bertanya-tanya mengenai Heru.

 Dapat ku ungkap bahwa, awalnya aku tidak menyukai duduk di dekat jendela ini, tetapi karena dia, belahan jiwa ku yang berada di Indonesia membuat diriku menyukai ini. Menurutnya duduk di dekat jendela, dapat menjawab dari perasaan kita yang ada, dengan cara memandang ke luar.

 "Kenapa kamu suka duduk di dekat jendela?" tanyaku heran. Pada saat itu, kami pergi berdua untuk makan siang.

 Dengan santai, ia menjawab,

 "Jika dirimu duduk di jantung kafe ini, kau hanya melihat isi dalam dari kafe ini kemudian kau akan merasakan kesepian, berbeda jika dirimu duduk di dekat jendela." ungkapnya.

 Aku hanya diam mendengar alasannya dan menyimpan kalimat itu dalam ingatan ku.

 Setelah 15 menit berlalu, pelayan kafe datang menuju meja sudut jendela bersama helaian kertas-kertas menu yang indah.

 "Selamat sore, di sore yang dingin kamu mau mesan apa?"

 "Kopi hangat satu"

 "Makanannya?"

 "Tidak, aku hanya ingin minum saja"

 "Baiklah, silahkan di tunggu"

 Aku meng-iyakan perkataan pelayan dengan mengangguk saja. Kemudian pelayan itu kembali ke pusat kafe untuk mengabulkan pesananku, penghangat ruangan yang ada di kafe ini tak mampu membuat diriku terasa hangat, bahkan semakin dingin menurutku, sehingga aku harus menggosok-gosokkan kedua tangan ku berulang kali.

 Ku lihat dari kejauhan, pelayan tadi tampaklah profesional dalam bekerja. Ia menggunakan blazer abu-abu dengan rapi, sepatu hitam yang mengkilap, mengantar sebuah pesanan dari meja ke meja bersama dengan nampan pesanan dan gerakan-gerakan tubuhnya, anehnya, dia tidak jatuh, walau terkadang pesanan orang-orang itu banyak di tangannya.

 Perlahan demi perlahan ia menuju sudut jendela, tepatnya ke meja ku.

 "Ini kopi nya, 25.000"

 "Baiklah, terimakasih," ucapku sambil menyodorkan uang.

 "Selamat menikmati"

 Pelayan tadi kemudian perlahan hilang dari pandanganku. Ia kembali ke jantung kafe, menuntaskan tugas nya. Dapat ku katakan, sepertinya ia sudah lama bekerja di kafe ini.

 Bersamaan dengan lagu yang mengiri ku saat itu, yakni "Flying without Wings" yang di nyanyikan oleh Band ternama "WESTLIFE" membuat diriku semakin hanyut dalam kedinginan kota ini.

 Ku pegang secangkir gelas kopi itu dengan harapan, bahwa teh tersebut dapat membuat diriku sedikit hangat. Ku angkat perlahan, sambil mengenang kembali butir-butir kenangan yang tersisa saat di Indonesia. Ku resapi aroma dari kopi yang membuat aku larut dalam bau nya. Sungguh, enak sekali. Tetapi, seketika dalam benakku timbul sebuah pernyataan bahwa,

 "Aku ingin kembali! Ya, aku harus kembali! Aku tak tahan berada di sini, bersama kesendirian!"

 Ku pejamkan mata, lalu membayangkan suasana yang ada di rumah ku, pada saat bulan ini juga, cuaca di daerah rumah ku pastilah hujan dan dingin. Sebab ini awal-awal tahun. Walau terkadang prediksi musim penghujan tak sama lagi, tetapi dapat dipercayai, bahwa bulan Januari akan selalu turun hujan. Kemudian aku bertanya-tanya,

  "Ibu, apa kabar?"

 "Ayah, apa kabar?"

 "Bagaimana keadaan kalian? Kau sedang apa Ibu? Ayah kau dimana?"

 "Kakak, bagaimana kabarmu?"

 "Ibu, Ayah, Kakak, aku rindu dari sini"

 "Aku ingin pulang"

 Dapat ku katakan bahwa aku belum terlalu lama berada di sini, baru dua bulan, tetapi.. aku selalu merasakan kerinduan pada tempat tinggal ku.

 "Kalau dirumah, saat sedang hujan, pastilah Ibu memberikan ku wedang jahe yang dibuatnya sendiri, agar tubuhku kembali terasa hangat dan terhindar dari flu, tapi kalo sekarang aku harus membeli nya sendiri" ucapku dengan sedih.

 Saat hujan, pasti Ayah selalu membelikan kami martabak keju, martabak favorit di keluarga kami. Tetapi, keadaan nya berbeda dengan sekarang. Aku di sini, dan mereka di sana. Aaaaa saat aku mengenang ini, aku semakin rindu pada merekaa!! Bantu aku Tuhan menahan rindu ini sampai waktu yang tepat untuk bertemu.

 Aku masih hanyut dalam butir kenangan ini, aku masih hanyut dalam keheningan malam yang mengantar petang untuk pergi, aku masih disini, di tempat favorit ku bersantai walau hanya dengan secangkir kopi.

 Aku masih merindukan mereka....

 Aku tak ingin beranjak dari sini sedikitpun, aku masih mau melodi malam menemani ku, aku masih ingin putaran lagu melankonis Westlife terdengar di telinga ku, tapi, denting jam merubah segalanya, sekarang sudah pukul 20.00 malam, dan aku harus segera pulang mempersiapkan buku untuk kuliah besok, ya aku harus mempersiapkannya. Seandainya saja besok belum masuk, mungkin aku akan tetap berada di sini, dalam kehangatan ruangan kafe.

 Ku kenakan kembali mantel yang sudah lama tidur di punggung kursi ini, tak lupa, sarung tangan juga ku kenakan, karena aku tahu, kondisi malam ini pastilah sangat dingin, dan aku harus kuat melewati dinginnya malam ini!

 Aku berjalan keluar dari kafetaria, sambil mengangkat tangan dan berkata ke salah satu pelayan,

 "Aku pulang, terimakasih pelayanannya!"

 "Sampai jumpa! Hati-hati dijalan, mampir kesini lagi!" balas si pelayan.

 Aku berusaha mengejar lampu pejalan kaki, tapi sayangnya sudah padam. Aku harus menunggu beberapa menit lagi, ku pandangi mini market yang di seberang jalan, dan ingin mampir ke sana, untuk memastikan,

 "Apakah malam ini, Heru ada disana? Bekerja di sana?"

 Tetapi niat ku terhenti untuk ke sana, aku tidak mau nanti Heru menganggap ku minta di bayarin lagi. Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Lampu pejalan kaki menyala, aku berlari kencang agar aku tidak dikejar oleh lampu itu, hingga akhirnya aku sampai ke seberang jalan untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku melewati mini market itu, dan berkata dalam hati,

  "Mampir ga ya?"

  "Apakah Heru marah kalau aku mampir ke sini lagi?"

  "Ah sudah malam, sebaiknya aku pulang saja". Aku pulang dengan keraguan untuk mampir atau tidak tetapi ya sudahlah, lain kali saja. Nanti, Cika khawatir karena diriku tak kunjung pulang.

 Di perjalanan pulang, melodi malam memanggil ku lagi, seakan mengajak diriku menari-nari bersama nya. Tepatnya, aku bertemu dengan seseorang yang memainkan alat musiknya di pingggir jalan dengan sangat menjiwai, ada yang bermain biola dengan kondisi fisik yang kurang, ada juga yang bermain sexophone dan gitar, walaupun mereka mempunyai fisik yang tidak sempurna tetapi mereka tetap melanjutkan hidupnya, mereka tetap mencari uang, dengan kelebihan yang mereka miliki. Mereka memainkan beberapa lagu dengan khusyuk dan menciptakan alunan yang indah. Dari beberapa pemain musik itu aku dapat menangkap sebuah pelajaran hidup bahwa,

 "Tuhan memberikan kita kekurangan, tapi percayalah, di samping kekurangan itu, ada banyak kelebihan yang Tuhan juga berikan"

 "Hidup tak berhenti saat kita mempunyai kekurangan, tetapi saat kita menyerah dari itu semua, baru lah kehidupan itu berhenti"

 Ku berikan secercah uang receh sisa aku minum kopi tadi, dan berdoa dalam diam "Semoga Tuhan memberikan mereka kehidupan yang baik."

 Gemerlap malam Kota Helsinki semakin menjadi-jadi, walau dingin semakin menusuk kulit semakin malam kota ini semakin ramai! Apakah mereka tak merasa kedinginan? Entahlah, mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, berbeda dengan diriku yang baru beberapa bulan. Cahaya yang terpancar dari bilik tok-toko ini membuat diriku semakin bersyukur atas anugrah yang Tuhan berikan, atas nikmat yang Tuhan berikan, sehingga aku dapat berada di sini.

 Aku merasa senang saat berada di antara orang banyak, karena dapat membuat diriku hilang dari kesendirian, walau itu sesaat. Mobil yang mewah hilir mudik berjalan, bule-bule yang besar tinggi berjalan kesana kemari, ada yang sambil memotret, menawar buah, memakan pizza, eskrim, dan ada juga yang berjalan hanya mengenakan celana pendek saja.

 "Apa mereka tak kedinginan? Memakai celana pendek saja? Bahkan aku, yang memakai pakaian dingin serba lengkap, masih kedinginan, hoah ampun aku" ujarku.

 Aku harus pulang sekarang, terlalu banyak yang ku pandangi sekarang. Aku berlari deras, saat sudah memasuki daerah 'student apartment', suasana nya gelap, atap-atap rumah semakin tertutupi oleh butiran-butiran salju yang nakal. Bersama dengan dingin nya kota aku menembus kesunyian malam ini, aku berharap untuk cepat sampai di rumah, berkali-kali ku gosokkan kembali kedua tangan ku agar dapat hangat. Jalanan sepi dan banyak terdapat salju di aspalnya sehingga aku harus lebih berhati-hati saat lari, pohon-pohon melambai ditiup angin, dedaunan ditutupi oleh bola salju kecil, aku terus berjalan sesambil menyembunyikan kedua tangan di balik saku mantel, ku hembuskan nafas dan  ku percepat langkah, semoga Tuhan melindungi ku.

 Sesampai di depan rumah, ku keluarkan kembali tangan mungil ku yang ku simpan di dalam mentel untuk memencet bel rumah, aku berharap, Cika belum tidur saat ini.

 Hentakkan kaki terdengar seperti mendekat dari balik pintu, sepertinya Cika belum tidur! Ucapku gembira, ternyata dia masih menunggu ku, ah leganya. Kemudian ia membuka kan pintunya sambil merengutkan dahi dan berkata,

 "Kamu darimana? Aku nungguin dari tadi, "

 "Maafin aku Cik, tadi aku keluar sebentar, mengingat beberapa sisa-sisa kehidupan"

 Aku masuk sambil menurukan mantel ku diatas kursi. Ruang tamu tampak berantakan, dipenuhi dengan tugas-tugas Cika yang menumpuk. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.

 "Cuaca nya dingin begini loh Rum.. daerah sini juga gelap, kamu ga takut? Pergi ga bilang-bilang, di hubungin ga bisa juga, ucap Cika yang sambil menutup pintu.

 "Takut ga takut lah, harus diberaniin, dijalan juga tadi ramai kok walau banyak salju, aku tadi mau kasih tahu kamu kalau aku mau keluar sebentar, tapi kamu nya tidur. Yah aku ga mau lah bangunin kamu, kamu kan capek."

 "Eh, eh tapi.. tadi aku udah nulis surat sih di atas meja ini, aku bilang mau ke kafetaria favorit anak kampus itu, lah kamu ga baca?" aku mengambil surat itu di atas meja telepon dan nunjukin ke Cika.

 "Kamu bisa aja kalo ngeles"

 "Ya engga Cik, loh ini masih ada suratnya, kamu sih yang ngeliat nya hahaha" aku tertawa.

 "Terus salah siapa?" ucap Cika.

 "Aku ga salah dong ya, kayaknya kamu deh yang salah"

 "Enak aja, nyalahin aku lagi, padahal kamu yang salah, ihhh"

 "Kamu udah makan?" tanya Cika.

 "Belum, aku hanya minum kopi saja"

 "Hueleh, cuma minum teh kopi aja sampe ke sana. Dasar kamu mah,"

 "Gapapa juga sih, sok sokan jadi anak Helsinki dikit" timpalku sambil mengejek Cika.

 "Yaudah, kamu makan dulu aja, aku udah masakin tuh. Niatnya mau makan sama kamu, tapi kamu ga pulang-pulang, makanya aku makan duluan tadi, ga apa-apa ya?

 "Dibuatin aja aku udah makasih banget. Kamu temen aku yang paling ngerti deh, makasih ya Cik"

 Meja ruang tamu di penuhi dengan tugas-tugas Cika yang serba lengkap, bersama secangkir teh ia menyelesaikan tugasnya, sepertinya laptop nya juga bahkan sudah letih untuk membantunya.

 Lalu, bagaimana dengan tugas ku? Wah aku sudah menyelesaikan 2 hari kemarin! Jadi sekarang aku dapat bersantai ria.

 Aku duduk di samping Cika yang masih sibuk dengan tugasnya, yang masih bingung dengan tugasnya, sepertinya dia juga sudah kelihatan bosan menyelesaikan tugas dan tugas.

 "Tumben, masakan mu enak Cik"

 "Baru belajar dari Google, makanya kamu belajar juga dong masak, jangan makan di luar aja"

 Aku tertawa dan seraya berkata "Lanjutin aja deh Cik tugasnya,". Aku menghindar dari pembicaraan Cika yang sudah menyinggung driku mengenai urusan masak-memasak.

 Cika adalah teman seperjuangan ku dari Indonesia, baru beberapa bulan aku mengenalnya, tapi kita seperti saudara, karena susah, dia ada, karena senang, dia juga ada. Aku menganggap Cika adalah sahabat terbaik ku.

 Kami sering berbagi cerita, terbuka terhadap masalah yang dihadapi. Penampilannya sederhana, ia menggunakan kacamata yang minus 3, kulitnya sawo matang, rambutnya lurus dan panjang sampai bahu, hidung nya mancung, tingginya pun sama dengan diriku, 163 cm.

 Cika orangnya superduper cerewet tapi aslinya dia itu sungguh-sungguh perhatian dan pengertian, dia pandai masak, cerdas, rajin, ambisius, pendengar yang baik, sopan dan terkadang ia menjengkelkan, tapi aku berusaha untuk menerima dia apa adanya. Aku berasal dari pulau Jawa, dan dia dari Sumatera. Tetapi, walau berbeda pulau. Aslinya aku juga berasal dari pulau Sumatera. Aku tinggal di Jakarta karena Ayah pindah tugas sejak aku berumur enam tahun.

 Aku masih melanjutkan makan ku sedang ia sudah membereskan peralatan-peralatan nya, lantas aku bertanya,

 "Udah selesai Cik?"

 "Udah dong, mau tidur dulu lah,"

 "Yaudah duluan aja, aku masih mau nonton"

 "Oke-oke duluan ya"

 "Sip"

 Cika membereskan semua perkakas nya dari ruang tamu, mengambil satu persatu helaian kertas print-an, mengangkat print dan meletakkannya di sudut ruangan, ia tampak glagapan dalam merapikan kembali alat-alatnya, laptopnya tampak melemah karena habis tenaga, begitu pun dengannya, mata nya tampak sayu dan hendak meminta istirahat dengan cepat.

 Aku menonton sebuah berita yang menyatakan bahwa tadi siang terjadi kecelakaan di Jalan Esplanade, didepan Cafe Karl Fazer yang disebabkan oleh "salju". Mobil tersebut melaju kencang hingga tak tahu bahwa jalanan di depannya masih banyak salju, mobilnya tergelincir dan menabrak salah satu toko. Sungguh ironis nasib pengendara tersebut. Tapi, si pengendara hanya luka ringan saja. Untunglah masih selamat.

 "Hoam..." aku menutup mulutku dengan tangan dan ternyata diriku mengantu sejak tadi, mata ku pun mulai layu menatap berita ini, tubuhku mulai loyo tak seimbang. Ku lihat jam dinding ternyata tak sadar waktu juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam dan besok aku harus masuk pagi!

 Bergegas ku matikan televisi dan masuk ke kamar. Oh iya, di rumah ini, kamar kami hanya satu. Jadi aku tidur berdua dengan Cika. Ku lihat Cika sudah berada di alamnya sendiri. Aku menuju tempat tidur kemudian mematikan lampu kamar, sebenarnya aku tak suka gelap, tetapi kalau lampu ga dimati, Cika ga bisa tidur! Dia bisa bangun di tengah malam dan mematikan lampu itu sendiri.

 Aku masih mengingat beberapa memori kecil yang ada di otakku tadi, bahwa aku masih merindukan suasana di Indonesia. Tetapi sudahlah, lebih baik aku tidur sekarang agar tidak telat kuliah besok

 Selamat Tidur Cika. Aku memejamkan mata dan dapat bermimpi suasana di Indonesia. Semoga saja.

 Jam beker Cika sudah membangunkan kami dari nyenyaknya tidur semalam, bahkan aku hanya tidur beberapa jam, baru sempat ingin bermimpi tapi tidak terwujud. Ku rapikan tempat tidur yang sudah memberi kami izin untuk tidur di atasnya. Huuh pagi yang indah bersama dengan bunyi kicauan burung di atap-atap rumah. Salju yang indah pagi ini, ku buka gorden dan berharap hari ini akan lebih jauh baik dari kemarin, tetapi tak ada lantunan suara adzan di sini. Aku sudah beberapa bulan menempati rumah ini, tetapi tak sehari pun ku dengar ada lantunan adzan. Bahkan untuk sholat pun kami menggunakan aplikasi dari hp Cika. Sungguh miris sekali. Suasana dingin masih pekat di kulit ini, tak ingin rasanya mandi.

 Cika yang sedari tadi sudah bangun berkata "Rum..  mandi dulu kemudian sholat gih" perintah Cika.

 "Iya Cik, by the way dingin gak airnya?

 "Banget, kayak es"

 "Oh My God, gapapa lah mandi subuh sehat"

 "Pastinya" timpal Cika.

 Aku beranjak dari tempat aku berdiri dengan penuh semangat kemudian mandi dan berwudhu. Kemudian aku menyapu kamar dan ruang tamu yang penuh dengan kertas – kertas yang berserakan.

 "Ini pasti sisa-sisa kerjaan Cika semalam yang ga bersih merapikannya" keluhku

 Setelah tugas ku kelar semua, ku dengar seruan dari bilik dapur.

 "Arum!! cepet sini!! Kita sarapan bareng"

 Ternayata Cika sudah menyiapkan sarapan, kebetulan perutku memang sudah bernyanyi-nyanyi. Asiknya. Kami saling  berbagi tugas dalam hal membereskan rumah, walau terkadang tugas itu sudah di kerjakan oleh Cika terlebih dahulu.

 "Iyaa Cikk, tunggu bentar yaa, aku nggambil tas dulu"

 "Cepetan, bentar lagi kita berangkat nih"

 "Oke bos" ucapku.

 Dengan beberapa roti di atas meja sarapan, selai nanas yang menggugah selera dan juga aroma kopi luwak yang menyerbak sukma membuat diriku melayang. Sederhana saja sarapan kali ini tapi mensyukuri nikmat yang ada adalah hal yang paling baik di dunia ini.

 "Mata kuliah mu berapa hari ini Rum?"

 "Hanya dua"

 "Kami empat hm"

 "Semoga saja dosen nya ga masuk semua ya" gurauku.

 "Hey kamu ini, yang ada nanti tugas nya makin banyak"

 "Yang penting bisa pulang Cik"

 "Iya ya hahahaahaha"

 "Hahahahaha"

 Kami tertawa lepas kali ini. Cika memang teman satu universitas dengan ku, tetapi jurusan kami berbeda. Dia memilih Business Management sedangkan aku Customer Service dan Marketing. Walau beda jurusan tapi masuknya tetap sama kok. Fakultas nya aja bersebelahan dengan fakultas aku.

 Hari ini seragam yang kami kenakan sama! Kemeja berwarna merah dongker dan jeans, tetapi tak lupa juga, kami menggunakan pakaian dingin. Kami mengeluarkan sepeda satu per satu dari dapur menuju luar, sepeda ini lah yang menjadi transportasi kami untuk sampai ke universitas.

 Kemudian Cika mengunci pintu, sedang aku masih bersibuk dengan ban sepeda ku kali itu, yang menurutku kempes. Tetapi, Cika bilang itu tidak kempes dan malah menyuruh diriku untuk tidak menghiraukan masalah ban sepeda.

 Suasana nya masih benar-benar dingin loh gengs! Walau udah pukul 07.00 pagi. Jalanan nya saja masih sepi, suara burung pun masih terdengar di telinga ku.

 "Cik hari yang indah ya ini!" seruku yang berada di belakangnya

 "Iya ih, masih sepi juga, padahal udah jam 7 kan"

  "Semoga aja kita ga terlambat"

 "Iya-iya, eh seandainya Indonesia juga kayak gini ya, wah asik nya"

 "Mau nunggu sampe kapanpun, Indonesia ga akan bersalju"

 "Oh iya hahahahahaahaha"

 Ketawa Cika terdengar sangat besar menyamai kicauan burung. Mini market yang biasa aku kunjungi mulai menampakkan diri,

 "Haii" ucapku ke salah satu pelayan.

 "Hati-hati" balasnya.

 "Kamu kenal ya sama dia Rum?" tanya Cika

 "Ya iya lah, aku sering belanja di situ, pelayan nya baik-baik loh,"

 "Ohahaha hebat kamu udah kenal banyak orang,"

 "Biasa aja ah" balasku.

 Kereta sudah mulai bekerja, pekerja-pekerja pun tampak terlihat dan membersihkan kios-kios mereka yang tertutup salju. Cika mengincang sepeda nya dengan kuat, wah aku lelah menyusul Cika hingga aku berteriak,

 "Cik santai aja, ga usah cepet-cepet!!!!"

 "Lihat jam deh, udah jam berapa, nanti kita telat!!"

 "Saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30, wah jam 08.00 aku masuk, mampus aku". Ku kejar sepeda cika dengan tenaga yang semaksimal mungkin hingga dapat menyaingi nya.

 "Cik, aku masuk jam 08.00 nih, cepetan ya"

 "Makanya dari tadi sih banyak penglihatannya"

 "Hehe," aku ketawa kecil.

 Aku terus mengincang sepeda dengan kuat, mungkin pedalnyaa beberapa kali terlepas, tetapi tak ku hiraukan, bahkan sempat tergelincir karena salju-salju yang menumpuk di jalanan, sebagian tenaga ku mungkin habis hanya untuk sampai ke kampus, belum untuk belajarnya. Uh..  ku melintas lampu merah dengan hati-hati, takut menabrak, 10 menit dari situ, kami sampai di halaman kampus, kemudian memarkirkan sepeda.

 "Cik, aku duluan ya, 15 menit lagi, dosen ku masuk"

 "Ya udah hati-hati, dan selamat belajar ya Arum"

 Aku berlari dengan cepat untuk masuk ke ruangan, berharap dosen ku belum masuk. Yah sesampai di ruangan, anak-anak sudah ramai dan menempati kursi duduknya masing-masing, sambil mengobrol satu sama lain.

 "Kamu kok bisa telat Rum, kenapa?" tanya Tizo

 "Tadi pas di perjalanan aku ngeliat kesana kemari Zo hehe, bersepeda juga jalannya santai, karena banyak salju ini juga makanya hati-hati, eh ga sadar ternyata bentar lagi udah masuk, jadi baru deh ngincang sepeda nya kuat"

 "Hmm besok aku jemput aja ya?"

 "Gausah lah, bisa sendiri kok"

 Walaupun aku sudah ngos-ngosan ngincang sepeda, kaki udah pegel, tapi anehnya tubuhku kok masih kerasa dingin? Ga keluar satu keringat pun. Wah aneh ya hmhmhm.

 "Gimana dengan Cika? Apa dosen nya udah masuk?" aku bertanya sendiri.

 "Kenapa Rum?" tanya Tizo

 "Engga, aku mikirin Cika aja, udah ada dosen nya apa belum"

 Derap kaki dosen mulai terdengar, bersama dengan buku di tangan kanan nya, wajahnya yang berseri, walau sudah berumuran, ia tetap semangat memberikan materi kami.

 "Selamat pagi anak-anak"

 "Pagi pak" jawab kami semua

 "Buka materi yang saya suruh kalian mengerjakannya kemarin. Saya akan menjelaskan sedikit, kemudian kalian akan mencari lagi kelanjutan materi nya"

 Hah, untunglah aku sudah mengerjakannya anak-anak kelas glagapan mencari materi yang sudah di perintahkan untuk membuat, bahkan ada yang tidak mengerjakannya, ada yang bergabung bersama diriku untuk melihat materi itu.

 Beberapa anak kelas mengatakan.

 "Huaaaaaaaaaaah, musim dingin enaknya bermalas-malasan pak, jangan tugas terus bahas tugas terus"

 "Maunya bapak juga begitu, tapi tetap kalian harus membuat tugas nya"

 Aku hanya mendengar perkataan dosen saja bahwa 'harus buat tugas.'

 Hoalah, benar menurut anak kelas, musim dingin lebih enak jika hanya bermalas-malasan saja. Hmmm tetapi tidak, aku tidak boleh bermalas-malasan! Kasian Ayah dan Ibu yeng sudah membiayai ku.

 Mungkin teman ku yang lain, merasa harus bermalas-malasan karena mereka tinggal di sini, mereka anak orang kaya, berpakaian serba mewah dan berbeda dengan diri ku. Mereka menggunakan mobil-mobil yang terbilang mahal, yah. Tapi aku tak boleh kalah dari mereka. Aku harus menunjukkan prestasiku sendiri.

 Sesingkat-singkat nya dosen menerangkan materi itu, dan hanya menghabiskan waktu setengah jam. "Mantap abis nih dosen, ngejelasin cuma setengah jam, tetapi menyuruh membuat tugas, harus sampe berjam-jam mencari materi nya" ucapku dongkol.

 Eh tapi aku tak boleh mengeluh. Aku tak boleh berkata seperti itu. Maafkan aku Tuhan.

 Anak-anak kelas masih sibuk dengan materi kelanjutan yang diberikan dosen, yah sesekali ada juga yang bercerita mengenai pacar mereka, baju mereka, mobil mereka,dan lainnya. Aku hanya diam saja melihat mereka.

 "Rum sini, gabung yuk, kita ngobrol" ucap Opi.

 "Hehe enggak, aku disini aja"

 "Iya deh"

 Tiba – tiba, Tizo mendekati diriku dan berkata,

 "Nanti, kita makan siang bareng ya"

 "Engga ah Zo, aku bawa bekel sendiri'

 Aku melihat dari pancaran papan tulis, bahwa Opi memperhatikan kami. Maka dari itu, aku menolak untuk makan siang bersama Tizo.

 Saat itu, dapat aku katakan bahwa benar aku berbohong dengan Tizo. Aku punya alasan mengapa setiap kali Tizo ingin pergi dengan ku, aku terus menolak nya, karena apa, Opi, teman seperjuangan ku dari Indonesia juga, menyukai Tizo sejak kami masuk ke universitas ini. Mungkin, karena perawakannya yang baik hati dan suka menolong, Opi menyukai nya.

 Kalau di lihat dari sisi ketampanan nya, Tizo juga tampan. Hidung nya mancung, dan matanya cokelat. Tinggi nya juga lumayan, dan pas banget kalo Opi suka sama dia. Entah kenapa, tetapi seperti nya Tizo tidak menyukai Opi. Bahkan ia selalu menghindar jika Opi mendekati nya.

 Aku teringat beberapa percakapan ku dengan Tizo saat berada di perpustakaan.

 "Kamu temennya Opi ya?" tanya Tizo.

 "Iya, kita berasal dari satu negara, kenapa?

 Saat itu aku dan Tizo sudah mulai saling kenal, ia pun menjawab,

 "Aku ga suka sama dia, caper orangnya"

 "Engga kok, asik kok anaknya, engga caper juga sih menurutku" jawabku membela Opi.

 "Kayak nya dia suka deh sama aku, kebaikan aku di salah artikan oleh nya,"

 "Loh, kok bisa narik kesimpulan kayak gitu sama Opi? jawab ku bingung.

 "Saat itu dia minta aku ngajakin dia main kerumah aku, awalnya aku ga mau kan, tapi karena dia maksa, yaudah jadi aku mau ngajak dia ke rumah, pas sampe rumah, ada Ibu sama Bapak juga, eh dia bilang kalo dia pacar nya aku, padahal suka aja engga sama dia"

 "Kalau Opi ngomong kayak gitu, berarti dia emang yang salah. Tapi, kamu jelasin aja lagi ke Ayah sama Ibu mu, kalau kamu ga ada apa-apa sama dia. Menyukai seseorang memang membutuhkan waktu, tapi aku yakin, suatu saat kamu pasti jadi suka sama dia deh"

 "Udah aku jelasin, eh semoga harapan kamu ga terkabul yah"

 "Loh kenapa?"

 "Karena aku suka sama kamu Rum"

 Spontan aku kaget mendengar pernyataan dari Tizo, hati ku berdegup kencang,

 "Kenapa jadi dia yang suka ke aku?" Tanya ku dalam bisu.

 Lantas aku menjawab, "Apaan sih Zo, kita kan temenan doang"

 Sejak kejadian di perpustakaan, aku menjaga jarak dengan Tizo, aku tak ingin kedekatan kami dianggap nya suatu harapan. Aku tak ingin nantinya ia menganggap ku seorang pemberi harapan. Dan untuk terakhir kalinya, aku tak ingin menyakiit perasaan Opi. Walau aku tahu, cinta Opi bertepuk sebelah tangan.

 Kembali ke tawaran Tizo untuk makan siang bersama yang aku tolak, ia kembali duduk di kursi nya, aku melihat dari depan papan tulis bahwa Tizo tampak merenung, mungkin memikirkan alasan yang aku beri saat itu dan mungkin memikirkan,

 "Kenapa  Arum selalu menolak ajakan nya"

 Salah satu anak kelas yang lumayan bandel, namanya Rendi menghampiriku di kursi

 "Hai Rum"

 "Ya? Ada apa?"

 "Tugas kita tadi apa ya?"

 "Disuruh nyari materi kelanjutan tugas sebelumnya"

 "Boleh aku kerumah mu, untuk ngerjain sama-sama?"

 "Boleh, asal kamu mau"

 "Jam 19.00 malam ya"

 "Hm iya,"

 Serentak teman sekelas, menyorakin kami, "Cieeee" ungkap mereka. Aku menjawab,

 "Hanya temen doang kok"

 "Rendi mau kerumah tuuu, ciieee" tambah Opi.

 "Iya, tapi dia mau ngerjain tugas aja sama-sama"

 Tampak ku lihat, wajah Tizo yang memanas, seperti tidak suka melihat kami. Yah, aku hanya diam saja melihatnya.

 "Kenapa sih kalian, kok lain banget kalo aku deket sama Arum" tanya Rendy.

 "Beda aja gitu dy, kalo kamu deket sama dia"

 "Tumben-tumbenan aja". Timpal yang lain.

 "Lah, aku kan hanya minta di ajarin dan buat tugas sama-sama saja, ga ada salah nya kan"

 "Yang salahnya itu, kamu main kerumah dia"

 "Hahahahaha" semua teman sekelas tampak tertawa besar dan aku hanya tersenyum biasa.

 Tak lama kemudian, dosen mata kuliah datang dengan wajahnya yang sangar.

 "Selamat pagi"

 "Pagi pak"

 "Keluarkan materi yang dtugaskan sekarang, saya akan memeriksa nya"

 Hati ku tetap tenang, karena aku masih mengerjakannya. Sama seperti dosen sebelumya, bapak ini hanya menjelaskan beberapa materi saja. Sedangkan, materi yang kami buat ini, banyak sekali. Hoalah, enak banget jadi dosen.

 Angin dingin lewat di hadapanku, menggetarkan jiwa yang ada bersamanya, denting waktu berjalan perlahan demi perlahan, suara anak kelas terdengar hanya seperti bisik-bisikan, semua orang tampak kedinginan, begitupun dengan diriku.

 Tak tersadar bahwa dosen yang di hadapan ku sudah lari dan hanya mengisakkan bayangan semata, semua anak kelas berhamburan keluar, ada yang pulang, ada yang ke kantin, ada yang pergi jalan-jalan, ada juga yang menjumpai kekasihnya nya di fakultas seberang.

 Opi menyapa ku, "Rum"

 "Iya Pi?"

 "Ke kantin yuk"

 "Engga ah, aku bawa bekal, Cika yang bawain tadi"

 "Ohh, tadi Tizo ngajak kamu makan siang?"

 "Iya, tapi aku tolak Pi,"

 "Kasihan loh Tizo, dia suka cerita ke aku, kalo kamu selalu nolak ajakannya"

 "Aku ga mau pertemanan kita renggang gara-gara Tizo Pi, makanya aku selalu menghindar dari dia"

 Opi duduk di samping ku dan menjelaskan semua nya,

 "Rum, seminggu yang lalu, aku udah nanya ke Tizo mengenai perasaan nya kepada ku, dan dia hanya menjawab kalau aku sama dia cukup temenan aja. Bahkan, dia bilang ke aku, kalau dia ga suka sama aku Rum. Emang salah aku pas itu, aku bilang ke Ayah-Ibu nya kalau aku pacarnya, aku bisa bilang gitu, karena Tizo ga pernah mikir perasaan aku, benar, cinta ku emang bertepuk sebelah tangan. Awalnya aku sempat setres, dan kecewa, tapi setelah di pikir-pikir, ga ada gunanya, kita datang ke sini bukan untuk mencari pacar, tapi untuk mencari ilmu. Maka dari itu aku harus moveon dari Tizo. Dan asal kamu tahu, Tizo juga pernah bilang ke aku, kalo dia suka sama kamu. Dia suka sedih kalau kamu selalu nolak ajakan dia. Aku tahu, kamu nolak ajakannya pasti karena aku kan? Iya aku tahu, tapi sekarang kamu ga usah bersikap kayak gitu lagi kok. Aku bener udah moveon dari Tizo. Sekarang, aku lagi deket sama He.........."

 "Arum!"

 Terdengar seseorang yang memanggil diriku, penjelasan Opi terhenti dan aku menuju keluar kelas,

 "Di panggil sama Cika ke kantin sekarang,"

 Mampus aku, kalau aku ke kantin pasti nanti ketemu sama Tizo. Aku bakal ketahuan juga nih sama Opi kalau aku aslinya berbohong bawa bekal.

 Jadi, aku  menjawab, "Iya, nanti aku ke sana. Kamu duluan aja ya, makasih udah nyamperin"

 "Oke sama-sama"

 Opi mendekati ku lagi, menepuk pundak ku dan berkata,

 "Rum, aku ke kantin dulu ya, perutku udah laper nih, terus mau pulang, lagian mata kuliah kita udah ga ada lagi kan?"

 "Oh iya, silahkan Pi, eh tapi pembicaraan kita tadi belum selesai loh"

 Opi langsung pergi dari tempat kami berdiri dan mungkin tidak mendengar pernyataan ku tadi, tapi ya sudahlah, aku bisa menanyakan nya lain kali. Lagian, rumah nya hanya selisih tiga rumah dari rumah ku.

 Aku menyimpan beberapa penjelasan Opi mengenai kedekatan nya dengan seseorang dan mulai melupakan Tizo, mungkin benar, selama ini aku salah. Aku salah selalu menolak ajakan Tizo, padahal ia selalu menolong ku saat aku membutuhkan nya. Maafkan aku Tizo.

 Perut ku sudah mulai membunyikan sirine-sirine nya, seraya mendemokan makanan yang tak kunjung masuk.

 "Sabar dikit" ucapku sambil memegang perut.

 "Kayaknya. Aku gabisa deh ke kantin, kalo ke sana bakal berabeh nih urusan" kataku.

 Segera aku pergi ke koperasi membeli 2 bungkus roti dengan selai kacang. Kemudian aku berjalan ke taman kampus yang saat itu masih sepi.


Pelangi Cinta- BAB I

Sebetulnya ini novelet yang saya tuliskan dari tahun 2017 hingga di masa kedua saat saya menjalani pendidikan di perguruan tinggi kedinasan,...