Sebetulnya ini novelet yang saya tuliskan dari tahun 2017 hingga di masa kedua saat saya menjalani pendidikan di perguruan tinggi kedinasan, telah selesai saya tulis dan dikirimkan di salah satu penerbit saat itu namun sayangnya dikarenakan masalah teknis pada laptop saya maka tidak ada file "utuh"nya lagi, dan tersisa beberapa bab yang saya cek kembali di Wattpad tahun ini. sebagai rasa bangga saya karna pernah menyelesaikannya maka saya ingin membagikan kepada para pembaca agar dapat hadir dan memberikan masukan terhadap beberapa bab yang saya sampaikan disini.
BAB I
Arumita
Zaharani yang biasa dipanggil "Arum". Baru saja keluar negeri untuk
menempuh pendidikannya University Of Helsinki. Ia teringat akan masa-masa nya
di Indonesia. Baru beberapa bulan, ia mendapat kabar buruk mengenai kekasihnya.
Beribu tanya ia pendam kala itu. Satu hari sebelum kepulangannya ke Indonesia,
ia kembali mendapat kabar bahwa kekasihnya meninggal dunia. Itu membuat hatinya
bergemuruh dan ingin pulang. Hingga akhirnya impian untuk pulang benar-benar
terwujud demi bertemu kekasihnya walau hanya di depan nisan.
Aku keluar dari
apartemen menuju sebuah kafe, bersama dengan dinginnya sore. Butiran - butiran
putih tampak berjatuhan ke mantel ku, atap-atap rumah pun memutih, dan mobil
yang berada di jalan tertutup oleh salju. Benar, ini adalah musim salju yang
pertama ku rasakan di negara orang.
Aktivitas di
jalan raya tampak normal walau hujan salju turun. Mobil, sepeda, bus, dan
bahkan pejalan kaki lainnya terlihat lalu-lalang dengan kehati-hatiannya. Di
tengah guyuran salju itu, karyawan di kawasan pusat perbelanjaan Jumbo Helsinki
mulai membersihkan salju di depan pintu toko-toko mereka.
Aku memandang
dari kejauhan, tampak seorang anak kecil bersama Ayahnya memakan eskrim di
sebuah kafetaria seberang jalan. Seketika aku ingat bahwa dulu, aku pernah
melakukan hal yang sama dengan anak itu. Saat Ayah membelikan ku eskrim sewaktu
ayah menjemputku di sekolah.
Aku dilahirkan
dari keluarga yang sederhana, Ayah adalah seorang abdi negara yang setia
menjalankan tugas, sedang Ibu adalah ibu rumah tangga yang senantiasa mengurus
anak-anaknya. Dulu, Ibuku seorang pekerja pajak, tetapi setelah menikah dengan
Ayah, Ayah menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaan dan mengatur urusan rumah
tangga saja. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara.
Ayahku adalah
sosok pria yang pekerja keras, ia selalu pulang larut malam hanya untuk
menyelesaikan bakti nya kepada negara. Bahkan, terkadang sesampai di rumah ia
masih melanjutkan tugasnya. Mungkin, tak banyak waktu yang kami habiskan
dirumah untuk berbicara bersama-sama, tetapi Ayah selalu meluangkan satu hari
dari setiap hari kerja nya untuk berkumpul bersama anak dan istrinya, menikmati
sebuah waktu yang mengukir kenangan. Mungkin menurut kalian, satu hari itu tak
ada artinya dibandingkan dengan enam hari yang lain, tapi percayalah, bahwa
diriku sangat menunggu satu hari itu, satu hari yang dapat membuat keakraban
kami kembali terjalin.
Aku ingat
ketika ayah menjemputku di taman kanak-kanak. Ya, saat itu aku masih TK dan
impian ku saat itu hanya ingin dijemput oleh Ayah saat pulang sekolah. Saat bel
berbunyi kami berhamburan ke luar kelas, mencari jemputan. Ada yang dijemput
oleh ayahnya, ibunya, dan kakaknya. Sedang aku melangkah pelan keluar sekolah
dengan perasaan yang sedih. Saat itu juga, Ibu belum menjemputku dan aku duduk
di depan sekolah, tepatnya di warung "Wak Jau" yang kini sudah
meninggal. Aku memandangi temanku yang dijemput Ayahnya, sungguh bahagia bila
diriku bisa dijemput oleh Ayah, karena selama aku sekolah di TK ayah belum
pernah menjemputku, tetapi kalau masalah mengantar ke sekolah, aku selalu
bersama dengan ayah. Hanya berbeda saja, jika Ayah juga bisa menjemputku. Mungkin
aku bisa merasa bahagia layaknya teman ku yang lain.
Saat aku
melihat temanku yang lain dijemput Ayahnya aku berkata dalam hati,
"Tuhan,
aku ingin dijemput oleh Ayah seperti mereka. Tuhan, dengarkan doa ku".
Wak Jau menegur
ku dari belakang, dan berkata "Arum belum dijemput ya? Biasanya Ibu selalu
menunggu lebih dahulu sebelum kamu pulang?"
Aku membalas
pertanyaan Wak Jau dengan hati yang sedih sambil memandangi teman ku yang
dijemput Ayahnya, "Belum Wak, mungkin Ibu lagi banyak kerjaan."
Kemudian Wak
Jau balik membalas, "Tunggu disini aja. Jangan kemana-mana, kalau mau
makan, ya makan dulu".
"Iya
Wak", sahutku sambil tetap memandangi temanku yang dijemput oleh Ayahnya.
Tak lama
kemudian, dari kursi yang aku duduki ku lihat dari kejauhan tampak motor
berwarna cokelat dengan nomor kendaaraan polisi melaju dengan cepat bersama
debu-debu yang beterbangan. Dalam hati aku berkata, "Apa itu Ayah? Ayah?
Ayah?"
Aku beranjak
dari kursi lamunanku dan berdiri di muka jalan sambil memastikan bahwa itu
memang benar Ayah, dengan perasaan yang senang, lantas aku berpikir bahwa Tuhan
mengabulkan impian ku saat itu.
Terdengar suara
motor Ayah dan berhenti dua meter dari tempat aku berdiri dan melambaikan
tangannya seraya berteriak, "Arum sini, ini ayah yang jemput."
Aku langsung
berlari dari tempat ku dan segera menghampiri Ayah. Perasaan ku senang bukan
main, karena impian ku terwujud. "Ayah kok bisa yang jemputnya? Emang Ibu
kemana? Tanya ku.
Ayah membalas,
"Ibu lagi ada arisan di kantor Ayah, jadi Ayah yang jemput. Tadi di jalan
Ayah beliin kamu es krim, cuaca nya panas kan? Makan gih sebelum meleleh"
"Yah makan
nya di warung Wak Jau aja ya."
"Iya-iya"
ucap Ayah. Ayah segera memarkinkan motornya diatas panasnya aspal dan cuaca
kala siang itu. Kemudian Ayah turun dari motornya,dan beranjak ke warung Wak
Jau.
"Ayah beli
2 ya es nya?" tanya ku.
"Ya iyalah
satunya kan untuk Ayah nak"
"Oh
iya" balas ku, sambil tertawa.
Setelah makan
es krim, Ayah mengantar kan ku pulang kerumah, aku duduk di bagian depan motor.
Kala itu, motor Ayah, masih seperti motor 'King'. Di perjalanan pulang, Ayah
menanyai ku mengenai aktivitas apa saja di sekolah tadi, dan tak lupa ayah
selalu berkata,
"Di
sekolah jangan nakal, sikapnya dijaga, nanti dimarahin guru kalo nakal"
"Iya Ayah,
Arum ga nakal kok" sahutku.
Senggolan teman
ku, Tizo. Menyadarkan aku dari manisnya sebuah kenangan waktu. Menyadarkan ku
dari tatapan anak kecil bersama Ayahnya. Menyadarkan ku bahwa, mengukir sebuah
kenangan hanya perlu dengan kesederhanaan.
"Hey! Rum!
Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Aku membalas
perkataan Tizo dan seraya menunjuk tanganku ke arah anak itu. "Aku hanya
melihat seorang anak kecil itu yang sedang makan es krim bersama Ayahnya.
Peristiwa ini, mengingatkan ku pada Ayah, dan sekarang aku semakin rindu pada nya"
"Bagaimana
dengan mu? Apa yang sedang kau lakukan di sini" timpalku.
"Hmm. Aku
hanya ingin membeli satu cup kopi dan beberapa mie instan. Apakah kau mau ikut?
Tanya nya.
"Tidak,
aku kesini hanya ingin meminum kopi di seberang sana"
"Oke,
sampai jumpa. Hati-hati di jalan"
"Sampai
jumpa Tizo"
Aku melangkah
dengan hati yang rapuh, aku masih teringat bagaimana dulu kenangan yang aku
buat bersama Ayah saat bersama. Tetapi, aku tak ingin berlama-lama dari keadaan
ini, aku harus beranjak tiba di kafe itu.
Aku tiba di
depan pintu kaca kafetaria setelah berlari dari seberang jalan mengejar lampu
pejalan yang sebentar lagi akan padam. Ku katakan, bahwa sore bersalju ini
membuat jalanan cukup ramai, tetapi aku tetap saja merasa sepi dan sendiri,
bagai terasingkan, sungguh.
Sudah satu
minggu aku berada di negara orang, tepatnya Helsinki, Finlandia. Aku selalu
merasa sepi dan sendiri, mungkin karena di sini aku tidak mempunyai kerabat. Ku
ayunkan langkah kaki dan gerak tangan ku perlahan untuk masuk ke dalam kafe
tersebut, merasakan kehangatan. Aku melihat
kanan kiri ku sudah ramai di hinggapi beberapa anak muda yang saling
bercanda tawa sambil mengerjakan tugas. Ya kafe ini adalah kafe favorit anak
muda, karena menyuguhkan beberapa makanan yang cukup murah bagi kantong kami. Pelayan
nya juga ramah.
Ku lihat satu
tempat duduk yang masih kosong, dan itu dekat dengan jendela! Sungguh, tempat
duduk yang seperti ini kembali mengingatkan ku pada masa lalu ku. Aku melangkah
maju seraya menuju tempat duduk itu, ku geser kursi dengan kehati-hatian
kemudian menidurkan mantel di punggung kursi ku.
Mungkin aku
beruntung dapat duduk di meja dekat jendela ini, karna aku bisa melihat bahwa
sebenarnya jalanan semakin ramai, walau aku merasa begitu sendiri, tetapi
setidaknya aku bisa memandang orang lalu-lalang, menghitung detik lampu merah
di dekat kafetaria ini, melihat mini market di seberang jalan tempat aku biasa
membeli cokelat dan susu.
Pelayan
minimarket itu sungguh baik dan ramah. Saat pertama-tama aku di Kota Helsinki,
aku sempat kehabisan makanan dan memutuskan untuk keluar membeli beberapa roti
dan susu di sana. Seingat ku, aku hanya membeli tiga bungkus roti dengan selai
nanas, lima kaleng susu dan satu bungkus
yohgurt yang bisa aku gunakan untuk makan malam dan untuk sarapan esok,
kemudian ku serahkan barang belanja ku di kasir.
Petugas kasir
berkata, "Total nya 124.000"
Saat aku hendak
membayar totalan nya, aku salah membawa dompet! Mampus aku, pikirku.
Lantas, aku
mengatakan, "Maaf tuan, aku salah membawa dompet. Aku belum bisa
membayarnya. Tetapi percayalah, aku akan
membayarnya,"
Petugas kasir
yang saat itu menurutku, seumuran juga dengan ku menjawab, "Bagaimana bisa
kau belanja, tetapi tidak membawa uang? Kau orang baru di sini? Tanya nya.
"Ya Tuan,
saya orang baru di sini. Baru dua bulan. Saat hendak bersepatu, sepertinya saya
meninggakan dompet ungu yang berisi uang, dan membawa dompet merah ini"
ucap ku.
"Kau ambil
saja, biar aku yang membayarnya." Kata nya.
"Apakah
benar Tuan??" Sahutku tak percaya.
"Ya,
ambillah ini" Ia merapikan barang belanja ku dan memberikannya pada ku.
Bayangkan saja, aku tak mengenalnya sebelum itu, bahkan dia bisa memberikan itu
secara gratis. Tak ku sangka, rezeki memang tak kemana-mana. Di saat perut
hendak lapar, dan uang ketinggalan. Ada saja yang memberikan belanjaan itu
dengan gratis. Aku harap bukan karena dia kasian melihat ku yang masih baru di
sini.
Aku
berterimakasih kepada nya, dan segera pulang. Di perjalanan pulang aku
berpikir,
"Bagaimana
bisa dia memberikan itu dengan cuma - cuma?"
"Apakah
dia pemilik minimarket itu?"
"Tapi,
kenapa ia yang menjaga kasirnya? Bukankah anak buah nya banyak, kenapa dia tak
menyuruh anak buah nya saja?"
Otakku bertanya
dengan beribu tanya.
"Apa
maksudnya memberikan ini?"
Dan, ada yang aku lupa saat itu, "Aku
belum tahu nama nya! Bagaimana bisa, jika aku ingin mengembalikan uang ini ke
dia, tetapi dia tak di sana? Aku berhutang pada nya!"
Ku kencangkan
mantel dan bingkisan ku, menembus dinginnya malam kala itu, suasana semakin
sepi menjadi-jadi. Hingga aku tiba dirumah dan menenggelamkan tubuhku dalam
isak tanya di dada mengenai petugas kasir itu.
Besoknya, aku
masih mencari beberapa informasi mengenai daerah tempat tinggalku, seperti
"Bagaimana aku bisa ke universitas nanti,"
"Menggunakan
apa aku bisa ke situ,"
"Jalan
Mannerheimintie ada di mana ya?"
Setelah
mendapat informasi dari beberapa orang. Aku memutuskan untuk kembali menemui
petuga kasir semalam di mini market itu, aku masuk dan bertanya pada pelayan
yang lain,
"Boleh aku
bertemu dengan petugas kasir semalam?"
"Siapa?"
"Aku tak
tahu namanya, tetapi dia bekerja disini semalam, dia menjaga kasir sekitar
pukul 22.00"
"Kau tahu
Dre?" tanya pelayan itu ke pelayan lain.
"Anaknya
bos ya?"
Aku mengulang
perkataannya, "Anaknya bos?"
"Iya.
Heru" ucapnya.
"Heru?
Dimana dia sekarang?"
"Ada di
dalam, akan segera ku panggilkan" jawab pelayan yang memakai bed nama
Andre.
"Terimakasih"
Aku melangkah
keluar dan duduk di kursi luar mini market, Heru ikut menyusul dan bertanya,
"Kenapa
kau ke sini, ada apa?"
Aku menyodorkan
beberapa uang kertas kepada nya. "Hai, aku ingin mengembalikan uang mu
semalam"
"Tidak
usah, anggap saja itu hadiah untuk mu yang baru tinggal disini"
"Tidak,
Ibu mengajarkan ku untuk membayar apa yang seharusnya kita beli"
Ia
mengembalikan uang ku dan berkata, "Ambillah saja. Gunakan uangmu untuk
keperluan yang lain, lain kali jangan melupakan sesuatu lagi"
"Terimakasih"
jawabku.
"Sama-sama"
Lalu dia
beranjak masuk ke dalam mini market, tanpa menghiraukan ku lagi. Setelah tak
berpikir panjang aku pun melangkah pergi dari mini market itu seraya berucap
dalam hati,
"Terimakasih
Heru, kau pelayan yang baik hati". Walau sebenarnya diriku masih
bertanya-tanya mengenai Heru.
Dapat ku ungkap
bahwa, awalnya aku tidak menyukai duduk di dekat jendela ini, tetapi karena
dia, belahan jiwa ku yang berada di Indonesia membuat diriku menyukai ini.
Menurutnya duduk di dekat jendela, dapat menjawab dari perasaan kita yang ada,
dengan cara memandang ke luar.
"Kenapa
kamu suka duduk di dekat jendela?" tanyaku heran. Pada saat itu, kami
pergi berdua untuk makan siang.
Dengan santai,
ia menjawab,
"Jika
dirimu duduk di jantung kafe ini, kau hanya melihat isi dalam dari kafe ini
kemudian kau akan merasakan kesepian, berbeda jika dirimu duduk di dekat
jendela." ungkapnya.
Aku hanya diam
mendengar alasannya dan menyimpan kalimat itu dalam ingatan ku.
Setelah 15
menit berlalu, pelayan kafe datang menuju meja sudut jendela bersama helaian
kertas-kertas menu yang indah.
"Selamat
sore, di sore yang dingin kamu mau mesan apa?"
"Kopi
hangat satu"
"Makanannya?"
"Tidak,
aku hanya ingin minum saja"
"Baiklah,
silahkan di tunggu"
Aku meng-iyakan
perkataan pelayan dengan mengangguk saja. Kemudian pelayan itu kembali ke pusat
kafe untuk mengabulkan pesananku, penghangat ruangan yang ada di kafe ini tak
mampu membuat diriku terasa hangat, bahkan semakin dingin menurutku, sehingga
aku harus menggosok-gosokkan kedua tangan ku berulang kali.
Ku lihat dari
kejauhan, pelayan tadi tampaklah profesional dalam bekerja. Ia menggunakan
blazer abu-abu dengan rapi, sepatu hitam yang mengkilap, mengantar sebuah
pesanan dari meja ke meja bersama dengan nampan pesanan dan gerakan-gerakan
tubuhnya, anehnya, dia tidak jatuh, walau terkadang pesanan orang-orang itu
banyak di tangannya.
Perlahan demi
perlahan ia menuju sudut jendela, tepatnya ke meja ku.
"Ini kopi
nya, 25.000"
"Baiklah,
terimakasih," ucapku sambil menyodorkan uang.
"Selamat
menikmati"
Pelayan tadi
kemudian perlahan hilang dari pandanganku. Ia kembali ke jantung kafe,
menuntaskan tugas nya. Dapat ku katakan, sepertinya ia sudah lama bekerja di
kafe ini.
Bersamaan
dengan lagu yang mengiri ku saat itu, yakni "Flying without Wings"
yang di nyanyikan oleh Band ternama "WESTLIFE" membuat diriku semakin
hanyut dalam kedinginan kota ini.
Ku pegang
secangkir gelas kopi itu dengan harapan, bahwa teh tersebut dapat membuat
diriku sedikit hangat. Ku angkat perlahan, sambil mengenang kembali butir-butir
kenangan yang tersisa saat di Indonesia. Ku resapi aroma dari kopi yang membuat
aku larut dalam bau nya. Sungguh, enak sekali. Tetapi, seketika dalam benakku
timbul sebuah pernyataan bahwa,
"Aku ingin
kembali! Ya, aku harus kembali! Aku tak tahan berada di sini, bersama
kesendirian!"
Ku pejamkan
mata, lalu membayangkan suasana yang ada di rumah ku, pada saat bulan ini juga,
cuaca di daerah rumah ku pastilah hujan dan dingin. Sebab ini awal-awal tahun.
Walau terkadang prediksi musim penghujan tak sama lagi, tetapi dapat
dipercayai, bahwa bulan Januari akan selalu turun hujan. Kemudian aku
bertanya-tanya,
"Ibu, apa kabar?"
"Ayah, apa
kabar?"
"Bagaimana
keadaan kalian? Kau sedang apa Ibu? Ayah kau dimana?"
"Kakak,
bagaimana kabarmu?"
"Ibu,
Ayah, Kakak, aku rindu dari sini"
"Aku ingin
pulang"
Dapat ku
katakan bahwa aku belum terlalu lama berada di sini, baru dua bulan, tetapi..
aku selalu merasakan kerinduan pada tempat tinggal ku.
"Kalau
dirumah, saat sedang hujan, pastilah Ibu memberikan ku wedang jahe yang
dibuatnya sendiri, agar tubuhku kembali terasa hangat dan terhindar dari flu,
tapi kalo sekarang aku harus membeli nya sendiri" ucapku dengan sedih.
Saat hujan,
pasti Ayah selalu membelikan kami martabak keju, martabak favorit di keluarga
kami. Tetapi, keadaan nya berbeda dengan sekarang. Aku di sini, dan mereka di
sana. Aaaaa saat aku mengenang ini, aku semakin rindu pada merekaa!! Bantu aku
Tuhan menahan rindu ini sampai waktu yang tepat untuk bertemu.
Aku masih
hanyut dalam butir kenangan ini, aku masih hanyut dalam keheningan malam yang
mengantar petang untuk pergi, aku masih disini, di tempat favorit ku bersantai
walau hanya dengan secangkir kopi.
Aku masih
merindukan mereka....
Aku tak ingin
beranjak dari sini sedikitpun, aku masih mau melodi malam menemani ku, aku
masih ingin putaran lagu melankonis Westlife terdengar di telinga ku, tapi,
denting jam merubah segalanya, sekarang sudah pukul 20.00 malam, dan aku harus
segera pulang mempersiapkan buku untuk kuliah besok, ya aku harus
mempersiapkannya. Seandainya saja besok belum masuk, mungkin aku akan tetap
berada di sini, dalam kehangatan ruangan kafe.
Ku kenakan
kembali mantel yang sudah lama tidur di punggung kursi ini, tak lupa, sarung
tangan juga ku kenakan, karena aku tahu, kondisi malam ini pastilah sangat
dingin, dan aku harus kuat melewati dinginnya malam ini!
Aku berjalan
keluar dari kafetaria, sambil mengangkat tangan dan berkata ke salah satu
pelayan,
"Aku
pulang, terimakasih pelayanannya!"
"Sampai
jumpa! Hati-hati dijalan, mampir kesini lagi!" balas si pelayan.
Aku berusaha
mengejar lampu pejalan kaki, tapi sayangnya sudah padam. Aku harus menunggu
beberapa menit lagi, ku pandangi mini market yang di seberang jalan, dan ingin
mampir ke sana, untuk memastikan,
"Apakah
malam ini, Heru ada disana? Bekerja di sana?"
Tetapi niat ku
terhenti untuk ke sana, aku tidak mau nanti Heru menganggap ku minta di bayarin
lagi. Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Lampu pejalan kaki menyala, aku
berlari kencang agar aku tidak dikejar oleh lampu itu, hingga akhirnya aku
sampai ke seberang jalan untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku melewati mini
market itu, dan berkata dalam hati,
"Mampir ga ya?"
"Apakah Heru marah kalau aku mampir ke
sini lagi?"
"Ah sudah malam, sebaiknya aku pulang
saja". Aku pulang dengan keraguan untuk mampir atau tidak tetapi ya
sudahlah, lain kali saja. Nanti, Cika khawatir karena diriku tak kunjung
pulang.
Di perjalanan
pulang, melodi malam memanggil ku lagi, seakan mengajak diriku menari-nari
bersama nya. Tepatnya, aku bertemu dengan seseorang yang memainkan alat
musiknya di pingggir jalan dengan sangat menjiwai, ada yang bermain biola
dengan kondisi fisik yang kurang, ada juga yang bermain sexophone dan gitar,
walaupun mereka mempunyai fisik yang tidak sempurna tetapi mereka tetap
melanjutkan hidupnya, mereka tetap mencari uang, dengan kelebihan yang mereka
miliki. Mereka memainkan beberapa lagu dengan khusyuk dan menciptakan alunan
yang indah. Dari beberapa pemain musik itu aku dapat menangkap sebuah pelajaran
hidup bahwa,
"Tuhan
memberikan kita kekurangan, tapi percayalah, di samping kekurangan itu, ada
banyak kelebihan yang Tuhan juga berikan"
"Hidup tak
berhenti saat kita mempunyai kekurangan, tetapi saat kita menyerah dari itu
semua, baru lah kehidupan itu berhenti"
Ku berikan
secercah uang receh sisa aku minum kopi tadi, dan berdoa dalam diam
"Semoga Tuhan memberikan mereka kehidupan yang baik."
Gemerlap malam
Kota Helsinki semakin menjadi-jadi, walau dingin semakin menusuk kulit semakin
malam kota ini semakin ramai! Apakah mereka tak merasa kedinginan? Entahlah,
mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, berbeda dengan diriku yang
baru beberapa bulan. Cahaya yang terpancar dari bilik tok-toko ini membuat
diriku semakin bersyukur atas anugrah yang Tuhan berikan, atas nikmat yang
Tuhan berikan, sehingga aku dapat berada di sini.
Aku merasa
senang saat berada di antara orang banyak, karena dapat membuat diriku hilang
dari kesendirian, walau itu sesaat. Mobil yang mewah hilir mudik berjalan,
bule-bule yang besar tinggi berjalan kesana kemari, ada yang sambil memotret,
menawar buah, memakan pizza, eskrim, dan ada juga yang berjalan hanya
mengenakan celana pendek saja.
"Apa
mereka tak kedinginan? Memakai celana pendek saja? Bahkan aku, yang memakai
pakaian dingin serba lengkap, masih kedinginan, hoah ampun aku" ujarku.
Aku harus
pulang sekarang, terlalu banyak yang ku pandangi sekarang. Aku berlari deras,
saat sudah memasuki daerah 'student apartment', suasana nya gelap, atap-atap
rumah semakin tertutupi oleh butiran-butiran salju yang nakal. Bersama dengan
dingin nya kota aku menembus kesunyian malam ini, aku berharap untuk cepat
sampai di rumah, berkali-kali ku gosokkan kembali kedua tangan ku agar dapat
hangat. Jalanan sepi dan banyak terdapat salju di aspalnya sehingga aku harus
lebih berhati-hati saat lari, pohon-pohon melambai ditiup angin, dedaunan
ditutupi oleh bola salju kecil, aku terus berjalan sesambil menyembunyikan
kedua tangan di balik saku mantel, ku hembuskan nafas dan ku percepat langkah, semoga Tuhan melindungi
ku.
Sesampai di
depan rumah, ku keluarkan kembali tangan mungil ku yang ku simpan di dalam
mentel untuk memencet bel rumah, aku berharap, Cika belum tidur saat ini.
Hentakkan kaki
terdengar seperti mendekat dari balik pintu, sepertinya Cika belum tidur!
Ucapku gembira, ternyata dia masih menunggu ku, ah leganya. Kemudian ia membuka
kan pintunya sambil merengutkan dahi dan berkata,
"Kamu
darimana? Aku nungguin dari tadi, "
"Maafin
aku Cik, tadi aku keluar sebentar, mengingat beberapa sisa-sisa kehidupan"
Aku masuk
sambil menurukan mantel ku diatas kursi. Ruang tamu tampak berantakan, dipenuhi
dengan tugas-tugas Cika yang menumpuk. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.
"Cuaca nya
dingin begini loh Rum.. daerah sini juga gelap, kamu ga takut? Pergi ga
bilang-bilang, di hubungin ga bisa juga, ucap Cika yang sambil menutup pintu.
"Takut ga
takut lah, harus diberaniin, dijalan juga tadi ramai kok walau banyak salju,
aku tadi mau kasih tahu kamu kalau aku mau keluar sebentar, tapi kamu nya
tidur. Yah aku ga mau lah bangunin kamu, kamu kan capek."
"Eh, eh
tapi.. tadi aku udah nulis surat sih di atas meja ini, aku bilang mau ke
kafetaria favorit anak kampus itu, lah kamu ga baca?" aku mengambil surat
itu di atas meja telepon dan nunjukin ke Cika.
"Kamu bisa
aja kalo ngeles"
"Ya engga
Cik, loh ini masih ada suratnya, kamu sih yang ngeliat nya hahaha" aku
tertawa.
"Terus
salah siapa?" ucap Cika.
"Aku ga
salah dong ya, kayaknya kamu deh yang salah"
"Enak aja,
nyalahin aku lagi, padahal kamu yang salah, ihhh"
"Kamu udah
makan?" tanya Cika.
"Belum,
aku hanya minum kopi saja"
"Hueleh,
cuma minum teh kopi aja sampe ke sana. Dasar kamu mah,"
"Gapapa
juga sih, sok sokan jadi anak Helsinki dikit" timpalku sambil mengejek
Cika.
"Yaudah,
kamu makan dulu aja, aku udah masakin tuh. Niatnya mau makan sama kamu, tapi
kamu ga pulang-pulang, makanya aku makan duluan tadi, ga apa-apa ya?
"Dibuatin
aja aku udah makasih banget. Kamu temen aku yang paling ngerti deh, makasih ya
Cik"
Meja ruang tamu
di penuhi dengan tugas-tugas Cika yang serba lengkap, bersama secangkir teh ia
menyelesaikan tugasnya, sepertinya laptop nya juga bahkan sudah letih untuk
membantunya.
Lalu, bagaimana
dengan tugas ku? Wah aku sudah menyelesaikan 2 hari kemarin! Jadi sekarang aku
dapat bersantai ria.
Aku duduk di
samping Cika yang masih sibuk dengan tugasnya, yang masih bingung dengan
tugasnya, sepertinya dia juga sudah kelihatan bosan menyelesaikan tugas dan
tugas.
"Tumben,
masakan mu enak Cik"
"Baru
belajar dari Google, makanya kamu belajar juga dong masak, jangan makan di luar
aja"
Aku tertawa dan
seraya berkata "Lanjutin aja deh Cik tugasnya,". Aku menghindar dari
pembicaraan Cika yang sudah menyinggung driku mengenai urusan masak-memasak.
Cika adalah
teman seperjuangan ku dari Indonesia, baru beberapa bulan aku mengenalnya, tapi
kita seperti saudara, karena susah, dia ada, karena senang, dia juga ada. Aku
menganggap Cika adalah sahabat terbaik ku.
Kami sering
berbagi cerita, terbuka terhadap masalah yang dihadapi. Penampilannya
sederhana, ia menggunakan kacamata yang minus 3, kulitnya sawo matang,
rambutnya lurus dan panjang sampai bahu, hidung nya mancung, tingginya pun sama
dengan diriku, 163 cm.
Cika orangnya
superduper cerewet tapi aslinya dia itu sungguh-sungguh perhatian dan
pengertian, dia pandai masak, cerdas, rajin, ambisius, pendengar yang baik,
sopan dan terkadang ia menjengkelkan, tapi aku berusaha untuk menerima dia apa
adanya. Aku berasal dari pulau Jawa, dan dia dari Sumatera. Tetapi, walau
berbeda pulau. Aslinya aku juga berasal dari pulau Sumatera. Aku tinggal di
Jakarta karena Ayah pindah tugas sejak aku berumur enam tahun.
Aku masih
melanjutkan makan ku sedang ia sudah membereskan peralatan-peralatan nya,
lantas aku bertanya,
"Udah
selesai Cik?"
"Udah
dong, mau tidur dulu lah,"
"Yaudah
duluan aja, aku masih mau nonton"
"Oke-oke
duluan ya"
"Sip"
Cika
membereskan semua perkakas nya dari ruang tamu, mengambil satu persatu helaian
kertas print-an, mengangkat print dan meletakkannya di sudut ruangan, ia tampak
glagapan dalam merapikan kembali alat-alatnya, laptopnya tampak melemah karena
habis tenaga, begitu pun dengannya, mata nya tampak sayu dan hendak meminta
istirahat dengan cepat.
Aku menonton
sebuah berita yang menyatakan bahwa tadi siang terjadi kecelakaan di Jalan
Esplanade, didepan Cafe Karl Fazer yang disebabkan oleh "salju".
Mobil tersebut melaju kencang hingga tak tahu bahwa jalanan di depannya masih
banyak salju, mobilnya tergelincir dan menabrak salah satu toko. Sungguh ironis
nasib pengendara tersebut. Tapi, si pengendara hanya luka ringan saja.
Untunglah masih selamat.
"Hoam..."
aku menutup mulutku dengan tangan dan ternyata diriku mengantu sejak tadi, mata
ku pun mulai layu menatap berita ini, tubuhku mulai loyo tak seimbang. Ku lihat
jam dinding ternyata tak sadar waktu juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam
dan besok aku harus masuk pagi!
Bergegas ku
matikan televisi dan masuk ke kamar. Oh iya, di rumah ini, kamar kami hanya
satu. Jadi aku tidur berdua dengan Cika. Ku lihat Cika sudah berada di alamnya
sendiri. Aku menuju tempat tidur kemudian mematikan lampu kamar, sebenarnya aku
tak suka gelap, tetapi kalau lampu ga dimati, Cika ga bisa tidur! Dia bisa
bangun di tengah malam dan mematikan lampu itu sendiri.
Aku masih
mengingat beberapa memori kecil yang ada di otakku tadi, bahwa aku masih
merindukan suasana di Indonesia. Tetapi sudahlah, lebih baik aku tidur sekarang
agar tidak telat kuliah besok
Selamat Tidur
Cika. Aku memejamkan mata dan dapat bermimpi suasana di Indonesia. Semoga saja.
***Senggolan
teman ku, Tizo. Menyadarkan aku dari manisnya sebuah kenangan waktu.
Menyadarkan ku dari tatapan anak kecil bersama Ayahnya. Menyadarkan ku bahwa,
mengukir sebuah kenangan hanya perlu dengan kesederhanaan.
"Hey! Rum!
Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Aku membalas
perkataan Tizo dan seraya menunjuk tanganku ke arah anak itu. "Aku hanya
melihat seorang anak kecil itu yang sedang makan es krim bersama Ayahnya.
Peristiwa ini, mengingatkan ku pada Ayah, dan sekarang aku semakin rindu pada nya"
"Bagaimana
dengan mu? Apa yang sedang kau lakukan di sini" timpalku.
"Hmm. Aku
hanya ingin membeli satu cup kopi dan beberapa mie instan. Apakah kau mau ikut?
Tanya nya.
"Tidak,
aku kesini hanya ingin meminum kopi di seberang sana"
"Oke,
sampai jumpa. Hati-hati di jalan"
"Sampai
jumpa Tizo"
Aku melangkah
dengan hati yang rapuh, aku masih teringat bagaimana dulu kenangan yang aku
buat bersama Ayah saat bersama. Tetapi, aku tak ingin berlama-lama dari keadaan
ini, aku harus beranjak tiba di kafe itu.
Aku tiba di
depan pintu kaca kafetaria setelah berlari dari seberang jalan mengejar lampu
pejalan yang sebentar lagi akan padam. Ku katakan, bahwa sore bersalju ini
membuat jalanan cukup ramai, tetapi aku tetap saja merasa sepi dan sendiri,
bagai terasingkan, sungguh.
Sudah satu
minggu aku berada di negara orang, tepatnya Helsinki, Finlandia. Aku selalu
merasa sepi dan sendiri, mungkin karena di sini aku tidak mempunyai kerabat. Ku
ayunkan langkah kaki dan gerak tangan ku perlahan untuk masuk ke dalam kafe
tersebut, merasakan kehangatan. Aku melihat
kanan kiri ku sudah ramai di hinggapi beberapa anak muda yang saling
bercanda tawa sambil mengerjakan tugas. Ya kafe ini adalah kafe favorit anak
muda, karena menyuguhkan beberapa makanan yang cukup murah bagi kantong kami.
Pelayan nya juga ramah.
Ku lihat satu
tempat duduk yang masih kosong, dan itu dekat dengan jendela! Sungguh, tempat
duduk yang seperti ini kembali mengingatkan ku pada masa lalu ku. Aku melangkah
maju seraya menuju tempat duduk itu, ku geser kursi dengan kehati-hatian
kemudian menidurkan mantel di punggung kursi ku.
Mungkin aku
beruntung dapat duduk di meja dekat jendela ini, karna aku bisa melihat bahwa
sebenarnya jalanan semakin ramai, walau aku merasa begitu sendiri, tetapi
setidaknya aku bisa memandang orang lalu-lalang, menghitung detik lampu merah
di dekat kafetaria ini, melihat mini market di seberang jalan tempat aku biasa
membeli cokelat dan susu.
Pelayan
minimarket itu sungguh baik dan ramah. Saat pertama-tama aku di Kota Helsinki,
aku sempat kehabisan makanan dan memutuskan untuk keluar membeli beberapa roti
dan susu di sana. Seingat ku, aku hanya membeli tiga bungkus roti dengan selai
nanas, lima kaleng susu dan satu bungkus
yohgurt yang bisa aku gunakan untuk makan malam dan untuk sarapan esok,
kemudian ku serahkan barang belanja ku di kasir.
Petugas kasir
berkata, "Total nya 124.000"
Saat aku hendak
membayar totalan nya, aku salah membawa dompet! Mampus aku, pikirku.
Lantas, aku
mengatakan, "Maaf tuan, aku salah membawa dompet. Aku belum bisa
membayarnya. Tetapi percayalah, aku akan
membayarnya,"
Petugas kasir
yang saat itu menurutku, seumuran juga dengan ku menjawab, "Bagaimana bisa
kau belanja, tetapi tidak membawa uang? Kau orang baru di sini? Tanya nya.
"Ya Tuan,
saya orang baru di sini. Baru dua bulan. Saat hendak bersepatu, sepertinya saya
meninggakan dompet ungu yang berisi uang, dan membawa dompet merah ini"
ucap ku.
"Kau ambil
saja, biar aku yang membayarnya." Kata nya.
"Apakah
benar Tuan??" Sahutku tak percaya.
"Ya,
ambillah ini" Ia merapikan barang belanja ku dan memberikannya pada ku.
Bayangkan saja, aku tak mengenalnya sebelum itu, bahkan dia bisa memberikan itu
secara gratis. Tak ku sangka, rezeki memang tak kemana-mana. Di saat perut
hendak lapar, dan uang ketinggalan. Ada saja yang memberikan belanjaan itu
dengan gratis. Aku harap bukan karena dia kasian melihat ku yang masih baru di
sini.
Aku
berterimakasih kepada nya, dan segera pulang. Di perjalanan pulang aku
berpikir,
"Bagaimana
bisa dia memberikan itu dengan cuma - cuma?"
"Apakah
dia pemilik minimarket itu?"
"Tapi,
kenapa ia yang menjaga kasirnya? Bukankah anak buah nya banyak, kenapa dia tak
menyuruh anak buah nya saja?"
Otakku bertanya
dengan beribu tanya.
"Apa
maksudnya memberikan ini?"
Dan, ada yang aku lupa saat itu, "Aku
belum tahu nama nya! Bagaimana bisa, jika aku ingin mengembalikan uang ini ke
dia, tetapi dia tak di sana? Aku berhutang pada nya!"
Ku kencangkan
mantel dan bingkisan ku, menembus dinginnya malam kala itu, suasana semakin
sepi menjadi-jadi. Hingga aku tiba dirumah dan menenggelamkan tubuhku dalam
isak tanya di dada mengenai petugas kasir itu.
Besoknya, aku
masih mencari beberapa informasi mengenai daerah tempat tinggalku, seperti
"Bagaimana aku bisa ke universitas nanti,"
"Menggunakan
apa aku bisa ke situ,"
"Jalan
Mannerheimintie ada di mana ya?"
Setelah
mendapat informasi dari beberapa orang. Aku memutuskan untuk kembali menemui
petuga kasir semalam di mini market itu, aku masuk dan bertanya pada pelayan
yang lain,
"Boleh aku
bertemu dengan petugas kasir semalam?"
"Siapa?"
"Aku tak
tahu namanya, tetapi dia bekerja disini semalam, dia menjaga kasir sekitar
pukul 22.00"
"Kau tahu
Dre?" tanya pelayan itu ke pelayan lain.
"Anaknya
bos ya?"
Aku mengulang
perkataannya, "Anaknya bos?"
"Iya.
Heru" ucapnya.
"Heru?
Dimana dia sekarang?"
"Ada di
dalam, akan segera ku panggilkan" jawab pelayan yang memakai bed nama
Andre.
"Terimakasih"
Aku melangkah
keluar dan duduk di kursi luar mini market, Heru ikut menyusul dan bertanya,
"Kenapa
kau ke sini, ada apa?"
Aku menyodorkan
beberapa uang kertas kepada nya. "Hai, aku ingin mengembalikan uang mu
semalam"
"Tidak
usah, anggap saja itu hadiah untuk mu yang baru tinggal disini"
"Tidak,
Ibu mengajarkan ku untuk membayar apa yang seharusnya kita beli"
Ia
mengembalikan uang ku dan berkata, "Ambillah saja. Gunakan uangmu untuk
keperluan yang lain, lain kali jangan melupakan sesuatu lagi"
"Terimakasih"
jawabku.
"Sama-sama"
Lalu dia
beranjak masuk ke dalam mini market, tanpa menghiraukan ku lagi. Setelah tak
berpikir panjang aku pun melangkah pergi dari mini market itu seraya berucap
dalam hati,
"Terimakasih
Heru, kau pelayan yang baik hati". Walau sebenarnya diriku masih
bertanya-tanya mengenai Heru.
Dapat ku ungkap
bahwa, awalnya aku tidak menyukai duduk di dekat jendela ini, tetapi karena
dia, belahan jiwa ku yang berada di Indonesia membuat diriku menyukai ini.
Menurutnya duduk di dekat jendela, dapat menjawab dari perasaan kita yang ada,
dengan cara memandang ke luar.
"Kenapa
kamu suka duduk di dekat jendela?" tanyaku heran. Pada saat itu, kami
pergi berdua untuk makan siang.
Dengan santai,
ia menjawab,
"Jika
dirimu duduk di jantung kafe ini, kau hanya melihat isi dalam dari kafe ini
kemudian kau akan merasakan kesepian, berbeda jika dirimu duduk di dekat
jendela." ungkapnya.
Aku hanya diam
mendengar alasannya dan menyimpan kalimat itu dalam ingatan ku.
Setelah 15
menit berlalu, pelayan kafe datang menuju meja sudut jendela bersama helaian
kertas-kertas menu yang indah.
"Selamat
sore, di sore yang dingin kamu mau mesan apa?"
"Kopi
hangat satu"
"Makanannya?"
"Tidak,
aku hanya ingin minum saja"
"Baiklah,
silahkan di tunggu"
Aku meng-iyakan
perkataan pelayan dengan mengangguk saja. Kemudian pelayan itu kembali ke pusat
kafe untuk mengabulkan pesananku, penghangat ruangan yang ada di kafe ini tak
mampu membuat diriku terasa hangat, bahkan semakin dingin menurutku, sehingga
aku harus menggosok-gosokkan kedua tangan ku berulang kali.
Ku lihat dari
kejauhan, pelayan tadi tampaklah profesional dalam bekerja. Ia menggunakan
blazer abu-abu dengan rapi, sepatu hitam yang mengkilap, mengantar sebuah
pesanan dari meja ke meja bersama dengan nampan pesanan dan gerakan-gerakan
tubuhnya, anehnya, dia tidak jatuh, walau terkadang pesanan orang-orang itu
banyak di tangannya.
Perlahan demi
perlahan ia menuju sudut jendela, tepatnya ke meja ku.
"Ini kopi
nya, 25.000"
"Baiklah,
terimakasih," ucapku sambil menyodorkan uang.
"Selamat
menikmati"
Pelayan tadi
kemudian perlahan hilang dari pandanganku. Ia kembali ke jantung kafe,
menuntaskan tugas nya. Dapat ku katakan, sepertinya ia sudah lama bekerja di
kafe ini.
Bersamaan
dengan lagu yang mengiri ku saat itu, yakni "Flying without Wings"
yang di nyanyikan oleh Band ternama "WESTLIFE" membuat diriku semakin
hanyut dalam kedinginan kota ini.
Ku pegang
secangkir gelas kopi itu dengan harapan, bahwa teh tersebut dapat membuat
diriku sedikit hangat. Ku angkat perlahan, sambil mengenang kembali butir-butir
kenangan yang tersisa saat di Indonesia. Ku resapi aroma dari kopi yang membuat
aku larut dalam bau nya. Sungguh, enak sekali. Tetapi, seketika dalam benakku
timbul sebuah pernyataan bahwa,
"Aku ingin
kembali! Ya, aku harus kembali! Aku tak tahan berada di sini, bersama
kesendirian!"
Ku pejamkan
mata, lalu membayangkan suasana yang ada di rumah ku, pada saat bulan ini juga,
cuaca di daerah rumah ku pastilah hujan dan dingin. Sebab ini awal-awal tahun.
Walau terkadang prediksi musim penghujan tak sama lagi, tetapi dapat
dipercayai, bahwa bulan Januari akan selalu turun hujan. Kemudian aku
bertanya-tanya,
"Ibu, apa kabar?"
"Ayah, apa
kabar?"
"Bagaimana
keadaan kalian? Kau sedang apa Ibu? Ayah kau dimana?"
"Kakak,
bagaimana kabarmu?"
"Ibu,
Ayah, Kakak, aku rindu dari sini"
"Aku ingin
pulang"
Dapat ku
katakan bahwa aku belum terlalu lama berada di sini, baru dua bulan, tetapi..
aku selalu merasakan kerinduan pada tempat tinggal ku.
"Kalau
dirumah, saat sedang hujan, pastilah Ibu memberikan ku wedang jahe yang
dibuatnya sendiri, agar tubuhku kembali terasa hangat dan terhindar dari flu,
tapi kalo sekarang aku harus membeli nya sendiri" ucapku dengan sedih.
Saat hujan,
pasti Ayah selalu membelikan kami martabak keju, martabak favorit di keluarga
kami. Tetapi, keadaan nya berbeda dengan sekarang. Aku di sini, dan mereka di
sana. Aaaaa saat aku mengenang ini, aku semakin rindu pada merekaa!! Bantu aku
Tuhan menahan rindu ini sampai waktu yang tepat untuk bertemu.
Aku masih
hanyut dalam butir kenangan ini, aku masih hanyut dalam keheningan malam yang
mengantar petang untuk pergi, aku masih disini, di tempat favorit ku bersantai
walau hanya dengan secangkir kopi.
Aku masih
merindukan mereka....
Aku tak ingin
beranjak dari sini sedikitpun, aku masih mau melodi malam menemani ku, aku
masih ingin putaran lagu melankonis Westlife terdengar di telinga ku, tapi,
denting jam merubah segalanya, sekarang sudah pukul 20.00 malam, dan aku harus
segera pulang mempersiapkan buku untuk kuliah besok, ya aku harus
mempersiapkannya. Seandainya saja besok belum masuk, mungkin aku akan tetap
berada di sini, dalam kehangatan ruangan kafe.
Ku kenakan
kembali mantel yang sudah lama tidur di punggung kursi ini, tak lupa, sarung
tangan juga ku kenakan, karena aku tahu, kondisi malam ini pastilah sangat
dingin, dan aku harus kuat melewati dinginnya malam ini!
Aku berjalan
keluar dari kafetaria, sambil mengangkat tangan dan berkata ke salah satu
pelayan,
"Aku
pulang, terimakasih pelayanannya!"
"Sampai
jumpa! Hati-hati dijalan, mampir kesini lagi!" balas si pelayan.
Aku berusaha
mengejar lampu pejalan kaki, tapi sayangnya sudah padam. Aku harus menunggu
beberapa menit lagi, ku pandangi mini market yang di seberang jalan, dan ingin
mampir ke sana, untuk memastikan,
"Apakah
malam ini, Heru ada disana? Bekerja di sana?"
Tetapi niat ku
terhenti untuk ke sana, aku tidak mau nanti Heru menganggap ku minta di bayarin
lagi. Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Lampu pejalan kaki menyala, aku
berlari kencang agar aku tidak dikejar oleh lampu itu, hingga akhirnya aku
sampai ke seberang jalan untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku melewati mini
market itu, dan berkata dalam hati,
"Mampir ga ya?"
"Apakah Heru marah kalau aku mampir ke
sini lagi?"
"Ah sudah malam, sebaiknya aku pulang
saja". Aku pulang dengan keraguan untuk mampir atau tidak tetapi ya
sudahlah, lain kali saja. Nanti, Cika khawatir karena diriku tak kunjung
pulang.
Di perjalanan
pulang, melodi malam memanggil ku lagi, seakan mengajak diriku menari-nari
bersama nya. Tepatnya, aku bertemu dengan seseorang yang memainkan alat
musiknya di pingggir jalan dengan sangat menjiwai, ada yang bermain biola
dengan kondisi fisik yang kurang, ada juga yang bermain sexophone dan gitar,
walaupun mereka mempunyai fisik yang tidak sempurna tetapi mereka tetap
melanjutkan hidupnya, mereka tetap mencari uang, dengan kelebihan yang mereka
miliki. Mereka memainkan beberapa lagu dengan khusyuk dan menciptakan alunan
yang indah. Dari beberapa pemain musik itu aku dapat menangkap sebuah pelajaran
hidup bahwa,
"Tuhan
memberikan kita kekurangan, tapi percayalah, di samping kekurangan itu, ada
banyak kelebihan yang Tuhan juga berikan"
"Hidup tak
berhenti saat kita mempunyai kekurangan, tetapi saat kita menyerah dari itu
semua, baru lah kehidupan itu berhenti"
Ku berikan
secercah uang receh sisa aku minum kopi tadi, dan berdoa dalam diam
"Semoga Tuhan memberikan mereka kehidupan yang baik."
Gemerlap malam
Kota Helsinki semakin menjadi-jadi, walau dingin semakin menusuk kulit semakin
malam kota ini semakin ramai! Apakah mereka tak merasa kedinginan? Entahlah,
mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, berbeda dengan diriku yang
baru beberapa bulan. Cahaya yang terpancar dari bilik tok-toko ini membuat
diriku semakin bersyukur atas anugrah yang Tuhan berikan, atas nikmat yang
Tuhan berikan, sehingga aku dapat berada di sini.
Aku merasa
senang saat berada di antara orang banyak, karena dapat membuat diriku hilang
dari kesendirian, walau itu sesaat. Mobil yang mewah hilir mudik berjalan,
bule-bule yang besar tinggi berjalan kesana kemari, ada yang sambil memotret,
menawar buah, memakan pizza, eskrim, dan ada juga yang berjalan hanya
mengenakan celana pendek saja.
"Apa
mereka tak kedinginan? Memakai celana pendek saja? Bahkan aku, yang memakai
pakaian dingin serba lengkap, masih kedinginan, hoah ampun aku" ujarku.
Aku harus
pulang sekarang, terlalu banyak yang ku pandangi sekarang. Aku berlari deras,
saat sudah memasuki daerah 'student apartment', suasana nya gelap, atap-atap
rumah semakin tertutupi oleh butiran-butiran salju yang nakal. Bersama dengan
dingin nya kota aku menembus kesunyian malam ini, aku berharap untuk cepat
sampai di rumah, berkali-kali ku gosokkan kembali kedua tangan ku agar dapat
hangat. Jalanan sepi dan banyak terdapat salju di aspalnya sehingga aku harus
lebih berhati-hati saat lari, pohon-pohon melambai ditiup angin, dedaunan
ditutupi oleh bola salju kecil, aku terus berjalan sesambil menyembunyikan
kedua tangan di balik saku mantel, ku hembuskan nafas dan ku percepat langkah, semoga Tuhan melindungi
ku.
Sesampai di
depan rumah, ku keluarkan kembali tangan mungil ku yang ku simpan di dalam
mentel untuk memencet bel rumah, aku berharap, Cika belum tidur saat ini.
Hentakkan kaki
terdengar seperti mendekat dari balik pintu, sepertinya Cika belum tidur!
Ucapku gembira, ternyata dia masih menunggu ku, ah leganya. Kemudian ia membuka
kan pintunya sambil merengutkan dahi dan berkata,
"Kamu
darimana? Aku nungguin dari tadi, "
"Maafin
aku Cik, tadi aku keluar sebentar, mengingat beberapa sisa-sisa kehidupan"
Aku masuk
sambil menurukan mantel ku diatas kursi. Ruang tamu tampak berantakan, dipenuhi
dengan tugas-tugas Cika yang menumpuk. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya.
"Cuaca nya
dingin begini loh Rum.. daerah sini juga gelap, kamu ga takut? Pergi ga
bilang-bilang, di hubungin ga bisa juga, ucap Cika yang sambil menutup pintu.
"Takut ga
takut lah, harus diberaniin, dijalan juga tadi ramai kok walau banyak salju,
aku tadi mau kasih tahu kamu kalau aku mau keluar sebentar, tapi kamu nya
tidur. Yah aku ga mau lah bangunin kamu, kamu kan capek."
"Eh, eh
tapi.. tadi aku udah nulis surat sih di atas meja ini, aku bilang mau ke
kafetaria favorit anak kampus itu, lah kamu ga baca?" aku mengambil surat
itu di atas meja telepon dan nunjukin ke Cika.
"Kamu bisa
aja kalo ngeles"
"Ya engga
Cik, loh ini masih ada suratnya, kamu sih yang ngeliat nya hahaha" aku
tertawa.
"Terus
salah siapa?" ucap Cika.
"Aku ga
salah dong ya, kayaknya kamu deh yang salah"
"Enak aja,
nyalahin aku lagi, padahal kamu yang salah, ihhh"
"Kamu udah
makan?" tanya Cika.
"Belum,
aku hanya minum kopi saja"
"Hueleh,
cuma minum teh kopi aja sampe ke sana. Dasar kamu mah,"
"Gapapa
juga sih, sok sokan jadi anak Helsinki dikit" timpalku sambil mengejek
Cika.
"Yaudah,
kamu makan dulu aja, aku udah masakin tuh. Niatnya mau makan sama kamu, tapi
kamu ga pulang-pulang, makanya aku makan duluan tadi, ga apa-apa ya?
"Dibuatin
aja aku udah makasih banget. Kamu temen aku yang paling ngerti deh, makasih ya
Cik"
Meja ruang tamu
di penuhi dengan tugas-tugas Cika yang serba lengkap, bersama secangkir teh ia
menyelesaikan tugasnya, sepertinya laptop nya juga bahkan sudah letih untuk
membantunya.
Lalu, bagaimana
dengan tugas ku? Wah aku sudah menyelesaikan 2 hari kemarin! Jadi sekarang aku
dapat bersantai ria.
Aku duduk di
samping Cika yang masih sibuk dengan tugasnya, yang masih bingung dengan
tugasnya, sepertinya dia juga sudah kelihatan bosan menyelesaikan tugas dan
tugas.
"Tumben,
masakan mu enak Cik"
"Baru
belajar dari Google, makanya kamu belajar juga dong masak, jangan makan di luar
aja"
Aku tertawa dan
seraya berkata "Lanjutin aja deh Cik tugasnya,". Aku menghindar dari
pembicaraan Cika yang sudah menyinggung driku mengenai urusan masak-memasak.
Cika adalah
teman seperjuangan ku dari Indonesia, baru beberapa bulan aku mengenalnya, tapi
kita seperti saudara, karena susah, dia ada, karena senang, dia juga ada. Aku
menganggap Cika adalah sahabat terbaik ku.
Kami sering
berbagi cerita, terbuka terhadap masalah yang dihadapi. Penampilannya
sederhana, ia menggunakan kacamata yang minus 3, kulitnya sawo matang,
rambutnya lurus dan panjang sampai bahu, hidung nya mancung, tingginya pun sama
dengan diriku, 163 cm.
Cika orangnya
superduper cerewet tapi aslinya dia itu sungguh-sungguh perhatian dan
pengertian, dia pandai masak, cerdas, rajin, ambisius, pendengar yang baik,
sopan dan terkadang ia menjengkelkan, tapi aku berusaha untuk menerima dia apa
adanya. Aku berasal dari pulau Jawa, dan dia dari Sumatera. Tetapi, walau
berbeda pulau. Aslinya aku juga berasal dari pulau Sumatera. Aku tinggal di
Jakarta karena Ayah pindah tugas sejak aku berumur enam tahun.
Aku masih
melanjutkan makan ku sedang ia sudah membereskan peralatan-peralatan nya,
lantas aku bertanya,
"Udah
selesai Cik?"
"Udah
dong, mau tidur dulu lah,"
"Yaudah
duluan aja, aku masih mau nonton"
"Oke-oke
duluan ya"
"Sip"
Cika
membereskan semua perkakas nya dari ruang tamu, mengambil satu persatu helaian
kertas print-an, mengangkat print dan meletakkannya di sudut ruangan, ia tampak
glagapan dalam merapikan kembali alat-alatnya, laptopnya tampak melemah karena
habis tenaga, begitu pun dengannya, mata nya tampak sayu dan hendak meminta
istirahat dengan cepat.
Aku menonton
sebuah berita yang menyatakan bahwa tadi siang terjadi kecelakaan di Jalan
Esplanade, didepan Cafe Karl Fazer yang disebabkan oleh "salju".
Mobil tersebut melaju kencang hingga tak tahu bahwa jalanan di depannya masih
banyak salju, mobilnya tergelincir dan menabrak salah satu toko. Sungguh ironis
nasib pengendara tersebut. Tapi, si pengendara hanya luka ringan saja.
Untunglah masih selamat.
"Hoam..."
aku menutup mulutku dengan tangan dan ternyata diriku mengantu sejak tadi, mata
ku pun mulai layu menatap berita ini, tubuhku mulai loyo tak seimbang. Ku lihat
jam dinding ternyata tak sadar waktu juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam
dan besok aku harus masuk pagi!
Bergegas ku
matikan televisi dan masuk ke kamar. Oh iya, di rumah ini, kamar kami hanya
satu. Jadi aku tidur berdua dengan Cika. Ku lihat Cika sudah berada di alamnya
sendiri. Aku menuju tempat tidur kemudian mematikan lampu kamar, sebenarnya aku
tak suka gelap, tetapi kalau lampu ga dimati, Cika ga bisa tidur! Dia bisa
bangun di tengah malam dan mematikan lampu itu sendiri.
Aku masih
mengingat beberapa memori kecil yang ada di otakku tadi, bahwa aku masih
merindukan suasana di Indonesia. Tetapi sudahlah, lebih baik aku tidur sekarang
agar tidak telat kuliah besok
Selamat Tidur
Cika. Aku memejamkan mata dan dapat bermimpi suasana di Indonesia. Semoga saja.
Jam beker Cika
sudah membangunkan kami dari nyenyaknya tidur semalam, bahkan aku hanya tidur
beberapa jam, baru sempat ingin bermimpi tapi tidak terwujud. Ku rapikan tempat
tidur yang sudah memberi kami izin untuk tidur di atasnya. Huuh pagi yang indah
bersama dengan bunyi kicauan burung di atap-atap rumah. Salju yang indah pagi
ini, ku buka gorden dan berharap hari ini akan lebih jauh baik dari kemarin,
tetapi tak ada lantunan suara adzan di sini. Aku sudah beberapa bulan menempati
rumah ini, tetapi tak sehari pun ku dengar ada lantunan adzan. Bahkan untuk
sholat pun kami menggunakan aplikasi dari hp Cika. Sungguh miris sekali.
Suasana dingin masih pekat di kulit ini, tak ingin rasanya mandi.
Cika yang
sedari tadi sudah bangun berkata "Rum..
mandi dulu kemudian sholat gih" perintah Cika.
"Iya Cik,
by the way dingin gak airnya?
"Banget,
kayak es"
"Oh My
God, gapapa lah mandi subuh sehat"
"Pastinya"
timpal Cika.
Aku beranjak
dari tempat aku berdiri dengan penuh semangat kemudian mandi dan berwudhu.
Kemudian aku menyapu kamar dan ruang tamu yang penuh dengan kertas – kertas
yang berserakan.
"Ini pasti
sisa-sisa kerjaan Cika semalam yang ga bersih merapikannya" keluhku
Setelah tugas
ku kelar semua, ku dengar seruan dari bilik dapur.
"Arum!!
cepet sini!! Kita sarapan bareng"
Ternayata Cika
sudah menyiapkan sarapan, kebetulan perutku memang sudah bernyanyi-nyanyi.
Asiknya. Kami saling berbagi tugas dalam
hal membereskan rumah, walau terkadang tugas itu sudah di kerjakan oleh Cika
terlebih dahulu.
"Iyaa
Cikk, tunggu bentar yaa, aku nggambil tas dulu"
"Cepetan,
bentar lagi kita berangkat nih"
"Oke
bos" ucapku.
Dengan beberapa
roti di atas meja sarapan, selai nanas yang menggugah selera dan juga aroma
kopi luwak yang menyerbak sukma membuat diriku melayang. Sederhana saja sarapan
kali ini tapi mensyukuri nikmat yang ada adalah hal yang paling baik di dunia
ini.
"Mata
kuliah mu berapa hari ini Rum?"
"Hanya
dua"
"Kami
empat hm"
"Semoga
saja dosen nya ga masuk semua ya" gurauku.
"Hey kamu
ini, yang ada nanti tugas nya makin banyak"
"Yang penting
bisa pulang Cik"
"Iya ya
hahahaahaha"
"Hahahahaha"
Kami tertawa
lepas kali ini. Cika memang teman satu universitas dengan ku, tetapi jurusan
kami berbeda. Dia memilih Business Management sedangkan aku Customer Service
dan Marketing. Walau beda jurusan tapi masuknya tetap sama kok. Fakultas nya
aja bersebelahan dengan fakultas aku.
Hari ini
seragam yang kami kenakan sama! Kemeja berwarna merah dongker dan jeans, tetapi
tak lupa juga, kami menggunakan pakaian dingin. Kami mengeluarkan sepeda satu
per satu dari dapur menuju luar, sepeda ini lah yang menjadi transportasi kami
untuk sampai ke universitas.
Kemudian Cika
mengunci pintu, sedang aku masih bersibuk dengan ban sepeda ku kali itu, yang
menurutku kempes. Tetapi, Cika bilang itu tidak kempes dan malah menyuruh
diriku untuk tidak menghiraukan masalah ban sepeda.
Suasana nya
masih benar-benar dingin loh gengs! Walau udah pukul 07.00 pagi. Jalanan nya
saja masih sepi, suara burung pun masih terdengar di telinga ku.
"Cik hari
yang indah ya ini!" seruku yang berada di belakangnya
"Iya ih,
masih sepi juga, padahal udah jam 7 kan"
"Semoga aja kita ga terlambat"
"Iya-iya,
eh seandainya Indonesia juga kayak gini ya, wah asik nya"
"Mau
nunggu sampe kapanpun, Indonesia ga akan bersalju"
"Oh iya
hahahahahaahaha"
Ketawa Cika
terdengar sangat besar menyamai kicauan burung. Mini market yang biasa aku
kunjungi mulai menampakkan diri,
"Haii"
ucapku ke salah satu pelayan.
"Hati-hati"
balasnya.
"Kamu
kenal ya sama dia Rum?" tanya Cika
"Ya iya
lah, aku sering belanja di situ, pelayan nya baik-baik loh,"
"Ohahaha
hebat kamu udah kenal banyak orang,"
"Biasa aja
ah" balasku.
Kereta sudah
mulai bekerja, pekerja-pekerja pun tampak terlihat dan membersihkan kios-kios
mereka yang tertutup salju. Cika mengincang sepeda nya dengan kuat, wah aku
lelah menyusul Cika hingga aku berteriak,
"Cik
santai aja, ga usah cepet-cepet!!!!"
"Lihat jam
deh, udah jam berapa, nanti kita telat!!"
"Saat itu
jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30, wah jam 08.00 aku masuk, mampus
aku". Ku kejar sepeda cika dengan tenaga yang semaksimal mungkin hingga
dapat menyaingi nya.
"Cik, aku
masuk jam 08.00 nih, cepetan ya"
"Makanya
dari tadi sih banyak penglihatannya"
"Hehe,"
aku ketawa kecil.
Aku terus
mengincang sepeda dengan kuat, mungkin pedalnyaa beberapa kali terlepas, tetapi
tak ku hiraukan, bahkan sempat tergelincir karena salju-salju yang menumpuk di
jalanan, sebagian tenaga ku mungkin habis hanya untuk sampai ke kampus, belum
untuk belajarnya. Uh.. ku melintas lampu
merah dengan hati-hati, takut menabrak, 10 menit dari situ, kami sampai di
halaman kampus, kemudian memarkirkan sepeda.
"Cik, aku
duluan ya, 15 menit lagi, dosen ku masuk"
"Ya udah
hati-hati, dan selamat belajar ya Arum"
Aku berlari
dengan cepat untuk masuk ke ruangan, berharap dosen ku belum masuk. Yah
sesampai di ruangan, anak-anak sudah ramai dan menempati kursi duduknya
masing-masing, sambil mengobrol satu sama lain.
"Kamu kok
bisa telat Rum, kenapa?" tanya Tizo
"Tadi pas
di perjalanan aku ngeliat kesana kemari Zo hehe, bersepeda juga jalannya
santai, karena banyak salju ini juga makanya hati-hati, eh ga sadar ternyata
bentar lagi udah masuk, jadi baru deh ngincang sepeda nya kuat"
"Hmm besok
aku jemput aja ya?"
"Gausah
lah, bisa sendiri kok"
Walaupun aku
sudah ngos-ngosan ngincang sepeda, kaki udah pegel, tapi anehnya tubuhku kok
masih kerasa dingin? Ga keluar satu keringat pun. Wah aneh ya hmhmhm.
"Gimana
dengan Cika? Apa dosen nya udah masuk?" aku bertanya sendiri.
"Kenapa
Rum?" tanya Tizo
"Engga,
aku mikirin Cika aja, udah ada dosen nya apa belum"
Derap kaki
dosen mulai terdengar, bersama dengan buku di tangan kanan nya, wajahnya yang
berseri, walau sudah berumuran, ia tetap semangat memberikan materi kami.
"Selamat
pagi anak-anak"
"Pagi
pak" jawab kami semua
"Buka
materi yang saya suruh kalian mengerjakannya kemarin. Saya akan menjelaskan
sedikit, kemudian kalian akan mencari lagi kelanjutan materi nya"
Hah, untunglah
aku sudah mengerjakannya anak-anak kelas glagapan mencari materi yang sudah di
perintahkan untuk membuat, bahkan ada yang tidak mengerjakannya, ada yang
bergabung bersama diriku untuk melihat materi itu.
Beberapa anak
kelas mengatakan.
"Huaaaaaaaaaaah,
musim dingin enaknya bermalas-malasan pak, jangan tugas terus bahas tugas
terus"
"Maunya
bapak juga begitu, tapi tetap kalian harus membuat tugas nya"
Aku hanya
mendengar perkataan dosen saja bahwa 'harus buat tugas.'
Hoalah, benar
menurut anak kelas, musim dingin lebih enak jika hanya bermalas-malasan saja.
Hmmm tetapi tidak, aku tidak boleh bermalas-malasan! Kasian Ayah dan Ibu yeng
sudah membiayai ku.
Mungkin teman
ku yang lain, merasa harus bermalas-malasan karena mereka tinggal di sini,
mereka anak orang kaya, berpakaian serba mewah dan berbeda dengan diri ku.
Mereka menggunakan mobil-mobil yang terbilang mahal, yah. Tapi aku tak boleh
kalah dari mereka. Aku harus menunjukkan prestasiku sendiri.
Sesingkat-singkat
nya dosen menerangkan materi itu, dan hanya menghabiskan waktu setengah jam.
"Mantap abis nih dosen, ngejelasin cuma setengah jam, tetapi menyuruh
membuat tugas, harus sampe berjam-jam mencari materi nya" ucapku dongkol.
Eh tapi aku tak
boleh mengeluh. Aku tak boleh berkata seperti itu. Maafkan aku Tuhan.
Anak-anak kelas
masih sibuk dengan materi kelanjutan yang diberikan dosen, yah sesekali ada
juga yang bercerita mengenai pacar mereka, baju mereka, mobil mereka,dan
lainnya. Aku hanya diam saja melihat mereka.
"Rum sini,
gabung yuk, kita ngobrol" ucap Opi.
"Hehe enggak,
aku disini aja"
"Iya
deh"
Tiba – tiba,
Tizo mendekati diriku dan berkata,
"Nanti,
kita makan siang bareng ya"
"Engga ah
Zo, aku bawa bekel sendiri'
Aku melihat
dari pancaran papan tulis, bahwa Opi memperhatikan kami. Maka dari itu, aku
menolak untuk makan siang bersama Tizo.
Saat itu, dapat
aku katakan bahwa benar aku berbohong dengan Tizo. Aku punya alasan mengapa
setiap kali Tizo ingin pergi dengan ku, aku terus menolak nya, karena apa, Opi,
teman seperjuangan ku dari Indonesia juga, menyukai Tizo sejak kami masuk ke
universitas ini. Mungkin, karena perawakannya yang baik hati dan suka menolong,
Opi menyukai nya.
Kalau di lihat
dari sisi ketampanan nya, Tizo juga tampan. Hidung nya mancung, dan matanya
cokelat. Tinggi nya juga lumayan, dan pas banget kalo Opi suka sama dia. Entah
kenapa, tetapi seperti nya Tizo tidak menyukai Opi. Bahkan ia selalu menghindar
jika Opi mendekati nya.
Aku teringat
beberapa percakapan ku dengan Tizo saat berada di perpustakaan.
"Kamu
temennya Opi ya?" tanya Tizo.
"Iya, kita
berasal dari satu negara, kenapa?
Saat itu aku
dan Tizo sudah mulai saling kenal, ia pun menjawab,
"Aku ga
suka sama dia, caper orangnya"
"Engga
kok, asik kok anaknya, engga caper juga sih menurutku" jawabku membela
Opi.
"Kayak nya
dia suka deh sama aku, kebaikan aku di salah artikan oleh nya,"
"Loh, kok
bisa narik kesimpulan kayak gitu sama Opi? jawab ku bingung.
"Saat itu
dia minta aku ngajakin dia main kerumah aku, awalnya aku ga mau kan, tapi
karena dia maksa, yaudah jadi aku mau ngajak dia ke rumah, pas sampe rumah, ada
Ibu sama Bapak juga, eh dia bilang kalo dia pacar nya aku, padahal suka aja
engga sama dia"
"Kalau Opi
ngomong kayak gitu, berarti dia emang yang salah. Tapi, kamu jelasin aja lagi
ke Ayah sama Ibu mu, kalau kamu ga ada apa-apa sama dia. Menyukai seseorang
memang membutuhkan waktu, tapi aku yakin, suatu saat kamu pasti jadi suka sama
dia deh"
"Udah aku
jelasin, eh semoga harapan kamu ga terkabul yah"
"Loh
kenapa?"
"Karena
aku suka sama kamu Rum"
Spontan aku
kaget mendengar pernyataan dari Tizo, hati ku berdegup kencang,
"Kenapa
jadi dia yang suka ke aku?" Tanya ku dalam bisu.
Lantas aku
menjawab, "Apaan sih Zo, kita kan temenan doang"
Sejak kejadian
di perpustakaan, aku menjaga jarak dengan Tizo, aku tak ingin kedekatan kami
dianggap nya suatu harapan. Aku tak ingin nantinya ia menganggap ku seorang
pemberi harapan. Dan untuk terakhir kalinya, aku tak ingin menyakiit perasaan
Opi. Walau aku tahu, cinta Opi bertepuk sebelah tangan.
Kembali ke
tawaran Tizo untuk makan siang bersama yang aku tolak, ia kembali duduk di
kursi nya, aku melihat dari depan papan tulis bahwa Tizo tampak merenung,
mungkin memikirkan alasan yang aku beri saat itu dan mungkin memikirkan,
"Kenapa Arum selalu menolak ajakan nya"
Salah satu anak
kelas yang lumayan bandel, namanya Rendi menghampiriku di kursi
"Hai
Rum"
"Ya? Ada
apa?"
"Tugas
kita tadi apa ya?"
"Disuruh
nyari materi kelanjutan tugas sebelumnya"
"Boleh aku
kerumah mu, untuk ngerjain sama-sama?"
"Boleh,
asal kamu mau"
"Jam 19.00
malam ya"
"Hm
iya,"
Serentak teman
sekelas, menyorakin kami, "Cieeee" ungkap mereka. Aku menjawab,
"Hanya
temen doang kok"
"Rendi mau
kerumah tuuu, ciieee" tambah Opi.
"Iya, tapi
dia mau ngerjain tugas aja sama-sama"
Tampak ku
lihat, wajah Tizo yang memanas, seperti tidak suka melihat kami. Yah, aku hanya
diam saja melihatnya.
"Kenapa
sih kalian, kok lain banget kalo aku deket sama Arum" tanya Rendy.
"Beda aja
gitu dy, kalo kamu deket sama dia"
"Tumben-tumbenan
aja". Timpal yang lain.
"Lah, aku
kan hanya minta di ajarin dan buat tugas sama-sama saja, ga ada salah nya
kan"
"Yang
salahnya itu, kamu main kerumah dia"
"Hahahahaha"
semua teman sekelas tampak tertawa besar dan aku hanya tersenyum biasa.
Tak lama
kemudian, dosen mata kuliah datang dengan wajahnya yang sangar.
"Selamat
pagi"
"Pagi
pak"
"Keluarkan
materi yang dtugaskan sekarang, saya akan memeriksa nya"
Hati ku tetap
tenang, karena aku masih mengerjakannya. Sama seperti dosen sebelumya, bapak
ini hanya menjelaskan beberapa materi saja. Sedangkan, materi yang kami buat
ini, banyak sekali. Hoalah, enak banget jadi dosen.
Angin dingin
lewat di hadapanku, menggetarkan jiwa yang ada bersamanya, denting waktu
berjalan perlahan demi perlahan, suara anak kelas terdengar hanya seperti
bisik-bisikan, semua orang tampak kedinginan, begitupun dengan diriku.
Tak tersadar
bahwa dosen yang di hadapan ku sudah lari dan hanya mengisakkan bayangan
semata, semua anak kelas berhamburan keluar, ada yang pulang, ada yang ke
kantin, ada yang pergi jalan-jalan, ada juga yang menjumpai kekasihnya nya di
fakultas seberang.
Opi menyapa ku,
"Rum"
"Iya
Pi?"
"Ke kantin
yuk"
"Engga ah,
aku bawa bekal, Cika yang bawain tadi"
"Ohh, tadi
Tizo ngajak kamu makan siang?"
"Iya, tapi
aku tolak Pi,"
"Kasihan
loh Tizo, dia suka cerita ke aku, kalo kamu selalu nolak ajakannya"
"Aku ga
mau pertemanan kita renggang gara-gara Tizo Pi, makanya aku selalu menghindar
dari dia"
Opi duduk di
samping ku dan menjelaskan semua nya,
"Rum,
seminggu yang lalu, aku udah nanya ke Tizo mengenai perasaan nya kepada ku, dan
dia hanya menjawab kalau aku sama dia cukup temenan aja. Bahkan, dia bilang ke
aku, kalau dia ga suka sama aku Rum. Emang salah aku pas itu, aku bilang ke
Ayah-Ibu nya kalau aku pacarnya, aku bisa bilang gitu, karena Tizo ga pernah
mikir perasaan aku, benar, cinta ku emang bertepuk sebelah tangan. Awalnya aku
sempat setres, dan kecewa, tapi setelah di pikir-pikir, ga ada gunanya, kita
datang ke sini bukan untuk mencari pacar, tapi untuk mencari ilmu. Maka dari
itu aku harus moveon dari Tizo. Dan asal kamu tahu, Tizo juga pernah bilang ke
aku, kalo dia suka sama kamu. Dia suka sedih kalau kamu selalu nolak ajakan
dia. Aku tahu, kamu nolak ajakannya pasti karena aku kan? Iya aku tahu, tapi
sekarang kamu ga usah bersikap kayak gitu lagi kok. Aku bener udah moveon dari
Tizo. Sekarang, aku lagi deket sama He.........."
"Arum!"
Terdengar
seseorang yang memanggil diriku, penjelasan Opi terhenti dan aku menuju keluar
kelas,
"Di
panggil sama Cika ke kantin sekarang,"
Mampus aku,
kalau aku ke kantin pasti nanti ketemu sama Tizo. Aku bakal ketahuan juga nih
sama Opi kalau aku aslinya berbohong bawa bekal.
Jadi, aku menjawab, "Iya, nanti aku ke sana. Kamu
duluan aja ya, makasih udah nyamperin"
"Oke
sama-sama"
Opi mendekati
ku lagi, menepuk pundak ku dan berkata,
"Rum, aku
ke kantin dulu ya, perutku udah laper nih, terus mau pulang, lagian mata kuliah
kita udah ga ada lagi kan?"
"Oh iya,
silahkan Pi, eh tapi pembicaraan kita tadi belum selesai loh"
Opi langsung
pergi dari tempat kami berdiri dan mungkin tidak mendengar pernyataan ku tadi,
tapi ya sudahlah, aku bisa menanyakan nya lain kali. Lagian, rumah nya hanya
selisih tiga rumah dari rumah ku.
Aku menyimpan
beberapa penjelasan Opi mengenai kedekatan nya dengan seseorang dan mulai
melupakan Tizo, mungkin benar, selama ini aku salah. Aku salah selalu menolak
ajakan Tizo, padahal ia selalu menolong ku saat aku membutuhkan nya. Maafkan
aku Tizo.
Perut ku sudah
mulai membunyikan sirine-sirine nya, seraya mendemokan makanan yang tak kunjung
masuk.
"Sabar
dikit" ucapku sambil memegang perut.
"Kayaknya.
Aku gabisa deh ke kantin, kalo ke sana bakal berabeh nih urusan" kataku.
Segera aku
pergi ke koperasi membeli 2 bungkus roti dengan selai kacang. Kemudian aku
berjalan ke taman kampus yang saat itu masih sepi.