Cinta dan kasihku, Mamak, lima kata yang sarat makna mulia. Engkaulah sosok yang tak pernah akan tergantikan oleh apa pun dan siapa pun. Dengan hati penuh syukur, aku menuliskan ini untuk menyampaikan betapa besar rasa cinta serta kekagumanku padamu. Sejak aku hadir di dunia, engkaulah yang pertama kali kulihat, dan engkau pula yang mengajariku arti kasih sayang tanpa batas. Begitu besar rasa cinta dan sayangmu, Mamak, yang takkan pernah sanggup kubalas dengan apa pun di dunia ini. Sejatinya, tak ada kata yang benar-benar mampu menggambarkan betapa berharganya dirimu dalam hidupku. Tanpamu, aku bukanlah siapa-siapa. Betapa beruntungnya aku terlahir darimu—seorang wanita tulus, ikhlas, dan tangguh mengarungi samudra kehidupan.
Mamak,
engkaulah pendamping yang sempurna bagi Bapak, penerang bagi anak-anakmu, dan
cahaya yang takkan pernah padam dimakan waktu. Meski ombak kehidupan kerap
menerjang, engkau tetap tegar demi satu tujuan: kelak anak-anakmu berhasil
menjadi insan yang hebat. Sering kali aku merenung, Mamak, bagaimana mungkin
seorang manusia memiliki hati begitu tulus dan sabar, sanggup menghadapi badai
kehidupan, lalu bertahan pada keyakinan untuk menghantarkan anak-anakmu pada
kesuksesan seperti sekarang—sesuatu yang tak semua orang tua mampu melakukannya.
Aku sungguh kagum padamu, Mamak. Doa apa yang senantiasa kau panjatkan hingga
Tuhan mengabulkannya, menjadikan kami seperti saat ini? Tentulah pengorbananmu
begitu banyak, dan semua itu kuyakini merupakan wujud cinta yang tak ternilai.
Engkau
adalah teladan kami dalam menapaki kehidupan. Kunci hidup yang selalu kau
tanamkan ialah jangan pernah menyerah untuk mencoba hal-hal yang baik, dan
pesan itu akan selalu kupegang erat. Mamak, bila bercermin pada masa lalu,
betapa berat perjuanganmu menanggung beban, yang dimulai sejak mengandung,
merawat, hingga membesarkanku sampai kini. Semua itu engkau jalani dengan
keteguhan serta kasih yang luar biasa. Kakimu yang dulu kokoh menapaki jalan
kini kian lemah. Kelopak matamu yang dahulu teduh kini berangsur sayu. Tubuhmu
yang dulu tegar menanggung segala ujian hidup, kini perlahan mulai rapuh.
Pada
hening malam, kala kulihat dirimu, biarlah aku yang menanggung sakitmu, Mamak!
Biarlah aku yang menggantikan tubuhmu yang mulai renta saat ini! Mamak, mungkin
begitu banyak kesalahan yang kulakukan padamu—yang melukai hatimu, entah
kusadari ataupun tidak. Namun percayalah, Mamak, aku benar-benar menyesalinya.
Aku sungguh menyayangkan diriku pernah berbuat hal-hal yang tak kau harapkan.
Tetapi percayalah, Mamak, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.
Aku ingin goresan senyum di pipimu, aku ingin mendengar tawamu, dan kebahagiaan
itu pula yang membuatku begitu bahagia.
Kini,
ketika aku dewasa, semakin kusadari bahwa engkaulah jantung hidupku, Mamak.
Tanpamu, segalanya akan hampa. Takkan ada siapa pun yang mampu menggantikanmu
dalam hidupku. Engkau segalanya bagiku, Mamak: cahaya dalam gulita, udara di
setiap nafasku, sekaligus alasan bagiku untuk terus berbuat baik. Aku ingin
selalu menjadi insan yang lebih baik dan membuatmu bangga.
Mamak,
aku tak pernah berhenti memanjatkan doa agar Tuhan selalu melimpahkan kesehatan
dan kebahagiaan kepadamu. Panjang umur, Mamakku. Berbahagialah selalu, dan
jangan pernah meninggalkanku. Meski kupercaya hal itu mustahil, aku selalu
memohon agar engkau tetap ada dalam hidupku. Aku ingin selalu bersamamu, menjadi
anak yang mencintai, menghormati, dan membanggakanmu.
Dengan
segenap cinta dan doa tulus,
Anakmu,
Ardhia Pramesti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar